Intiperistiwa.com – Selat Hormuz kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat mengalami perlambatan. Jalur pelayaran vital dunia itu kini kembali dipadati kapal komersial.
Sebelumnya, konflik geopolitik di Timur Tengah sempat menghambat arus perdagangan. Namun, situasi yang mulai kondusif mendorong peningkatan aktivitas pelayaran.
Pada Kamis, 18 Juni 2026, sebanyak 25 kapal komersial melintasi Selat Hormuz. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal Juni.
Pencapaian itu sekaligus menandai pulihnya perdagangan di jalur laut strategis. Selat Hormuz sendiri menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Kesepakatan AS-Iran Dorong Pemulihan
Peningkatan lalu lintas kapal terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan penting. Kedua negara sepakat membuka kembali Selat Hormuz.
Selain itu, kesepakatan tersebut juga mencakup pencabutan blokade maritim terhadap Iran. Langkah ini membuka ruang bagi normalisasi perdagangan.
Iran dan Amerika Serikat menyusun 14 poin kesepakatan pada 14 Juni 2026. Pakistan memediasi perundingan tersebut untuk mengakhiri konflik melalui dialog.
Dokumen itu dikenal sebagai Memorandum Islamabad. Kesepakatan mulai berlaku pada 18 Juni 2026.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandatangani dokumen tersebut secara digital.
Isi memorandum mencakup penghentian perang, termasuk konflik di Lebanon. Selain itu, kedua pihak menyepakati pembukaan Selat Hormuz.
Arus Kapal Komersial Meningkat Tajam
Mengutip Antara, Sabtu (20/6/2026), Anadolu menghimpun data dari Kpler dan MarineTraffic. Data tersebut menunjukkan lonjakan aktivitas pelayaran.
Sebanyak 25 kapal melintasi Selat Hormuz dalam sehari. Kapal-kapal itu mengangkut LNG, minyak mentah, pupuk, produk minyak, kontainer, dan muatan curah kering.
Sembilan kapal di antaranya membawa muatan penuh. Angka tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku industri terhadap keamanan jalur pelayaran.
Empat kapal tanker raksasa mengangkut sedikitnya delapan juta barel minyak mentah. Muatan tersebut melintasi Selat Hormuz menuju berbagai negara tujuan.
Tiga kapal tanker mengangkut sekitar 6,2 juta barel minyak Arab Saudi. Lebih dari empat juta barel menuju Jepang dan Korea Selatan.
Sementara itu, tujuan 2,1 juta barel minyak di kapal tanker Jaham belum diketahui.
Minyak, LNG, hingga Pupuk Kembali Mengalir
Kapal tanker Tenzan turut melintasi Selat Hormuz. Kapal itu membawa 1,8 juta barel minyak mentah dari Uni Emirat Arab menuju Jepang.
Di sisi lain, kapal LNG berbendera Prancis, Mraikh, mengangkut 169 ribu meter kubik LNG dari Ras Laffan, Qatar, menuju Pakistan.
Kapal tanker berbendera Hong Kong, Tong Lin Wan, juga melintasi jalur tersebut. Kapal itu membawa 592 ribu barel produk minyak bersih menuju Singapura.
Selain energi, komoditas lain juga kembali bergerak. Dua kapal curah kering bermuatan penuh mengangkut pupuk menuju India dan China.
Tren Pelayaran Berbalik Arah
Data MarineTraffic menunjukkan pergerakan kapal sempat berfluktuasi. Namun, jumlahnya terus membaik menjelang akhir pekan.
Pada 14 Juni, sebanyak 12 kapal melintasi Selat Hormuz. Jumlah itu turun menjadi 10 kapal sehari kemudian.
Aktivitas kembali meningkat menjadi 14 kapal pada 16 Juni. Namun, jumlahnya merosot menjadi tujuh kapal pada 17 Juni.
Kini, lonjakan hingga 25 kapal dalam sehari menghadirkan optimisme baru. Jika kondisi tetap stabil, perdagangan global berpotensi kembali normal.
Kelancaran Selat Hormuz memiliki dampak besar bagi dunia. Jalur ini memengaruhi distribusi energi, harga minyak, dan rantai pasok internasional. (id/*)










Komentar