Google Kembangkan Jutaan Nyamuk Untuk Lawan DBD

Google memanfaatkan AI dan bakteri Wolbachia untuk menekan populasi nyamuk penyebar penyakit.

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Google Kembangkan Jutaan Nyamuk Untuk Lawan DBD. (Foto: MNC Media/idxchannel)

Google Kembangkan Jutaan Nyamuk Untuk Lawan DBD. (Foto: MNC Media/idxchannel)

Intiperistiwa.com – Google menghadirkan pendekatan berbeda untuk mengurangi penyebaran penyakit yang di tularkan nyamuk. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu tidak mengandalkan insektisida maupun obat-obatan.

Sebaliknya, Google mengembangkan jutaan nyamuk jantan sebagai bagian dari strategi pengendalian populasi nyamuk. Program tersebut bertujuan menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, demam kuning, hingga malaria.

Google berencana membiakkan sekitar 32 juta ekor nyamuk jantan. Selanjutnya, perusahaan akan melepas nyamuk tersebut di California dan Florida, Amerika Serikat.

Nyamuk yang di gunakan berasal dari spesies Aedes aegypti. Spesies ini di kenal sebagai penyebar utama virus demam berdarah.

Namun, Google hanya melepas nyamuk jantan ke lingkungan. Nyamuk jantan tidak menggigit manusia sehingga tidak menularkan penyakit.

Manfaatkan Bakteri Wolbachia

Google membekali nyamuk jantan dengan bakteri alami Wolbachia. Bakteri tersebut memang di temukan secara alami dan tidak berasal dari rekayasa genetika.

Saat kawin dengan nyamuk betina liar, nyamuk jantan pembawa Wolbachia menghasilkan telur yang gagal menetas. Karena itu, populasi nyamuk pembawa penyakit akan terus berkurang seiring waktu.

Baca Juga :  Beasiswa Semen Indonesia 2026 Batch 3 Resmi Dibuka, Kuliah Gratis 8 Semester di UISI

Google menegaskan metode tersebut tidak menggunakan modifikasi genetik. Selain itu, perusahaan juga tidak memanfaatkan bahan kimia maupun racun untuk menjalankan program tersebut.

AI Kelola Jutaan Nyamuk

Google turut memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proyek tersebut. Teknologi ini membantu seluruh proses pembiakan berlangsung lebih efisien.

AI mengelola analisis data, sensor, sistem pembiakan otomatis, hingga teknologi computer vision. Seluruh teknologi tersebut mampu menangani jutaan nyamuk dalam satu sistem.

Selain itu, AI membantu memisahkan nyamuk jantan dan betina dengan tingkat akurasi tinggi. Langkah tersebut memastikan hanya nyamuk jantan yang di lepas ke alam.

Teknologi AI juga menentukan lokasi pelepasan yang di nilai paling efektif. Sistem tersebut sekaligus menghitung jumlah nyamuk yang perlu di lepas di setiap wilayah.

Google telah mengajukan izin kepada Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau Environmental Protection Agency (EPA). Perusahaan mengusulkan pelepasan hingga 32 juta nyamuk selama dua tahun.

Artinya, sekitar 16 juta nyamuk akan di lepas setiap tahun di California dan Florida. Google kembali menegaskan bahwa nyamuk tersebut aman bagi manusia karena tidak menggigit dan tidak membawa penyakit.

Baca Juga :  Kawasaki Z250 2026 Resmi Meluncur, Motor Naked Sport Bermesin 248 cc Dijual Rp77 Jutaan

Berhasil di Uji di Singapura

Program ini bukan proyek baru bagi Google. Perusahaan telah mengembangkan teknologi tersebut selama hampir satu dekade.

Google menjadikan Singapura sebagai pusat penelitian dan pengembangan internasasional pertama untuk proyek tersebut. Hasil uji coba di negara itu menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.

Menurut Google, pelepasan nyamuk jantan pembawa Wolbachia berhasil menurunkan populasi Aedes aegypti hingga 80 sampai 90 persen. Penurunan tersebut terjadi di wilayah yang menjalankan program uji coba.

Selain itu, jumlah kasus demam berdarah juga turun lebih dari 70 persen. Hasil tersebut tercatat dalam kurun enam hingga 12 bulan setelah program berjalan.

Keberhasilan di Singapura menjadi dasar bagi Google untuk memperluas implementasi proyek Debug. Melalui langkah itu, perusahaan berharap penyebaran penyakit akibat nyamuk dapat terus di tekan di berbagai wilayah. (id/*)

Berita Terkait

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak
10 Prompt Foto 80-an ChatGPT, dari Gaya Studio hingga Album Keluarga Jadul
10 Prompt Foto 80-an ChatGPT Bergaya Jadul dengan Motor Klasik, dari RX-King sampai Vespa
Prompt Foto 80-an ChatGPT dan Gemini Viral, Begini Cara Membuatnya
Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya
Akun WhatsApp Tiba-Tiba Diblokir? Kenali Penyebab dan Cara Mengajukan Banding
Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?
ChatGPT Images 2.5 Resmi Hadir, Coretan Sederhana Kini Bisa Jadi Gambar Lebih Detail
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 22:00 WIB

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak

Sabtu, 12 September 2026 - 10:00 WIB

10 Prompt Foto 80-an ChatGPT, dari Gaya Studio hingga Album Keluarga Jadul

Sabtu, 12 September 2026 - 07:00 WIB

10 Prompt Foto 80-an ChatGPT Bergaya Jadul dengan Motor Klasik, dari RX-King sampai Vespa

Jumat, 11 September 2026 - 19:00 WIB

Prompt Foto 80-an ChatGPT dan Gemini Viral, Begini Cara Membuatnya

Kamis, 10 September 2026 - 19:00 WIB

Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya

Berita Terbaru