Kenapa Masjid Koto Tuo Pulau Tengah Disebut Masjid Keramat? Ini Kisahnya

Masjid tua di Kerinci ini selamat dari dua kebakaran besar dan gempa dahsyat. Frasa Utama: Masjid Koto Tuo Pulau Teng

- Jurnalis

Senin, 3 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kenapa Masjid Koto Tuo Pulau Tengah Disebut Masjid Keramat? Ini Kisahnya. (Foto: Fatmi Sunarya/ramadan.kompasiana)

Kenapa Masjid Koto Tuo Pulau Tengah Disebut Masjid Keramat? Ini Kisahnya. (Foto: Fatmi Sunarya/ramadan.kompasiana)

Intiperistiwa.com – Kisah Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah menyimpan cerita menarik dari masa lalu. Tim Peneliti Rumah Ibadah Bersejarah menelusuri sejarah masjid tersebut. Tim Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama melakukan penelitian itu. Tim Kemenag Kabupaten Kerinci turut mendampingi proses penelitian tersebut.

Dari penelusuran itu, muncul cerita mengenai asal nama Masjid Keramat. Masjid tersebut berada di Desa Koto Tuo, Pulau Tengah, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Dahulu, wilayah tersebut masuk Perwakilan Kecamatan Keliling Danau. Masyarakat memperkirakan masjid itu berdiri sekitar abad ke-18.

Masjid tersebut kemudian dikenal sebagai masjid tertua di Kabupaten Kerinci. Masyarakat memilih nama Masjid Keramat karena alasan yang berkaitan dengan bencana. Dalam berbagai peristiwa besar, masjid itu selalu terhindar dari kehancuran. Kebakaran pada 1903 dan 1939 serta gempa pada 1942 menjadi catatan penting.

Selamat dari Kebakaran 1903

Menurut Haji Ismail, takmir Masjid Keramat, kebakaran pertama terjadi pada 1903. Ia menyebut serdadu Kompeni terkait dengan peristiwa kebakaran tersebut. Serdadu Kompeni baru datang ke wilayah Kerinci pada tahun yang sama. Kedatangan mereka kemudian memicu perlawanan masyarakat Desa Pulau Tengah.

Masyarakat Desa Pulau Tengah memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan tersebut. Masyarakat setempat juga memiliki ikatan kuat dengan ajaran Islam. Namun, kekuatan kedua pihak tidak seimbang dalam pertempuran tersebut. Akhirnya, pasukan Kompeni berhasil mematahkan perlawanan masyarakat.

Kompeni juga berhasil merebut benteng pertahanan rakyat di Lolo Lempur. Wilayah tersebut berada di Kecamatan Gunung Raya. Setelah itu, kedua pihak kemudian mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama.

Enam bulan setelah perjanjian, pihak Kompeni kembali melakukan tindakan terhadap Desa Pulau Tengah. Serdadu Kompeni kemudian membumihanguskan kawasan permukiman tersebut. Api menghancurkan berbagai bangunan dan rumah warga di sekitar masjid. Namun, Masjid Keramat tetap berdiri di tengah kawasan yang terbakar.

Baca Juga :  Festival Kopi Kerinci 2026 Segera Digelar, Usung Tema “Kopi Kerinci Tanah Surga Menuju Panggung Kopi Dunia”

Masjid Kembali Selamat pada 1939

Bangunan Masjid Keramat saat itu seluruhnya menggunakan kayu. Meski begitu, kobaran api tidak menghancurkan bangunan masjid tersebut. Rumah-rumah penduduk di sekitarnya justru musnah akibat kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperkuat cerita masyarakat mengenai keistimewaan masjid.

Peristiwa kebakaran kembali terjadi pada 1939. Sekali lagi, api menghancurkan rumah-rumah yang berada di sekitar masjid. Namun, Masjid Keramat kembali terhindar dari kobaran api. Masyarakat kemudian mengaitkan keselamatan tersebut dengan izin Allah SWT.

Karena dua kejadian tersebut, masyarakat semakin percaya pada nama Masjid Keramat. Mereka melihat masjid tetap berdiri ketika api menghancurkan lingkungan sekitarnya. Kisah tersebut kemudian berkembang dalam cerita masyarakat Pulau Tengah. Hingga kini, cerita itu menjadi bagian penting dari sejarah masjid.

Gempa Dahsyat Tahun 1942

Bencana lain kembali melanda Pulau Tengah pada 1942. Saat itu, masyarakat menghadapi gempa bumi dahsyat pada masa pendudukan Jepang. Gempa tersebut menghancurkan berbagai bangunan hingga menjadi puing-puing. Namun, Masjid Keramat kembali bertahan dari bencana tersebut.

Masyarakat kembali melihat masjid tua itu tetap berdiri setelah gempa. Peristiwa tersebut semakin memperkuat alasan penggunaan nama Masjid Keramat. Sebelumnya, masyarakat sudah menyaksikan masjid selamat dari dua kebakaran besar. Setelah gempa 1942, kisah keselamatan masjid semakin melekat dalam ingatan warga.

Belanda Merenovasi Masjid Keramat

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian mengambil langkah untuk menarik simpati masyarakat. Pemerintah kolonial melakukan renovasi terhadap Masjid Keramat. Bangunan yang semula menggunakan kayu kemudian berganti menjadi tembok permanen. Selain itu, pemerintah menggunakan marmer untuk bagian dinding dan lantai.

Pemerintah kolonial mendatangkan marmer tersebut langsung dari Belanda. Namun, renovasi itu tidak mengubah bentuk arsitektur utama masjid. Bentuk tradisional masjid tetap mengikuti rancangan sebelumnya. Atap limas juga tetap menjadi bagian dari karakter bangunan.

Baca Juga :  Mutasi Besar Polri 2026: 1.121 Personel Berganti, 190 Jabatan Kapolres Dirombak

Keunikan sejarah Masjid Keramat turut menarik perhatian pemerintah kolonial. Pemerintah Belanda kemudian menerbitkan Ordonantie stbl 238/1931. Aturan tersebut bertujuan melindungi masjid tua sebagai peninggalan bersejarah. Karena itu, Masjid Keramat memiliki catatan sejarah sekaligus nilai pelestarian.

Sokoguru dan Tempat Azan

Saat memasuki Masjid Keramat, pengunjung dapat melihat tiang besar di bagian tengah. Tiang tersebut berfungsi sebagai sokoguru atau tiang utama masjid. Tiang utama itu terhubung dengan tiang pada sisi kiri. Keduanya membentuk struktur yang menyerupai jembatan.

Dahulu, para muazin menggunakan bagian tersebut untuk mengumandangkan azan. Mereka memanggil masyarakat untuk menunaikan salat lima waktu. Selain sokoguru, masjid juga memiliki kaligrafi Al-Qur’an pada dinding bagian atas. Kiai Haji Usman dan Muhammad Surrah menulis kaligrafi tersebut.

Kaligrafi itu memiliki bentuk yang indah dan artistik. Meski sudah berusia puluhan tahun, tulisan tersebut masih terlihat jelas. Cat berbahan tumbuhan membantu menjaga kejelasan tulisan tersebut. Karena itu, kaligrafi menjadi salah satu bagian menarik dalam masjid.

Beduk Antik di Serambi

Halaman Masjid Keramat memiliki area yang luas dan terlihat asri. Pada bagian serambi, terdapat sebuah beduk antik berbahan kayu. Beduk tersebut memiliki ukiran yang tampak indah. Namun, masyarakat belum mengetahui waktu kedatangan dan asal beduk tersebut.

Keberadaan beduk menambah unsur sejarah dalam kompleks Masjid Keramat. Selain itu, ukiran pada beduk memperlihatkan detail yang menarik. Sayangnya, posisi masjid di tengah permukiman membuat bangunan sulit terlihat dari jauh. Deretan rumah warga mengelilingi masjid dari berbagai sisi.

Kondisi tersebut membuat kemegahan Masjid Keramat kurang terlihat dari kejauhan. Pengunjung tidak dapat melihat keseluruhan bentuk masjid secara leluasa. Meski demikian, masjid tetap menyimpan sejarah panjang bagi masyarakat Pulau Tengah. Kisah kebakaran, gempa, dan arsitekturnya membuat Masjid Keramat memiliki cerita tersendiri. (iD/*)

Berita Terkait

MTQ Nasional XXXI 2026 Berakhir, Ini Daftar Kafilah Jambi yang Raih Prestasi, Dua di Antaranya Juara Terbaik
Prestasi Jambi di MTQ Nasional XXXI 2026 Meningkat, Kini Tempati Peringkat 13 Nasional
Festival Kopi Kerinci 2026 Berakhir Meriah, Ini Daftar Lengkap Pemenang Kompetisi Kopi
Festival Kopi Kerinci 2026 Jadi Momentum Perkuat Hilirisasi dan Dorong Kopi Lokal ke Panggung Dunia
Kerinci Perluas Kopi Arabika lewat Tanam Perdana 2026, Program Sasar 650 Hektare
Pemkot Tunjuk 5 Plt Kepala SMPN Sungai Penuh, Ini Daftar Nama dan Sekolahnya
Pasokan MinyaKita Tiga Pekan Tak Masuk, Pedagang Sungai Penuh Kesulitan Memenuhi Permintaan
Perjuangkan Fasilitas RSUD Kerinci, Dinkes Jemput Bola ke Kemenkes RI
Berita ini 18 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 13:00 WIB

MTQ Nasional XXXI 2026 Berakhir, Ini Daftar Kafilah Jambi yang Raih Prestasi, Dua di Antaranya Juara Terbaik

Senin, 21 September 2026 - 10:00 WIB

Prestasi Jambi di MTQ Nasional XXXI 2026 Meningkat, Kini Tempati Peringkat 13 Nasional

Senin, 21 September 2026 - 07:00 WIB

Festival Kopi Kerinci 2026 Berakhir Meriah, Ini Daftar Lengkap Pemenang Kompetisi Kopi

Minggu, 20 September 2026 - 19:00 WIB

Festival Kopi Kerinci 2026 Jadi Momentum Perkuat Hilirisasi dan Dorong Kopi Lokal ke Panggung Dunia

Minggu, 20 September 2026 - 16:00 WIB

Kerinci Perluas Kopi Arabika lewat Tanam Perdana 2026, Program Sasar 650 Hektare

Berita Terbaru