Intiperistiwa.com – Dunia pendakian kehilangan salah satu legendanya pada akhir Juli 2026. Nirmal Purja atau Nims Dai, pendaki asal Nepal, meninggal setelah longsoran salju menerjang Broad Peak, Pakistan. Sebelumnya, nama Nims Dai mendunia setelah mencetak rekor pendakian luar biasa. Ia menaklukkan seluruh 14 gunung berketinggian lebih dari 8.000 meter dalam 189 hari.
Perjalanan tersebut kemudian menginspirasi film dokumenter Netflix berjudul 14 Peaks: Nothing Is Impossible. Netflix mengangkat perjalanan tersebut melalui film dokumenter yang tayang pada 2021. Selain itu, Nims Dai menjalankan pencapaian tersebut melalui Project Possible. Ia membagi Project Possible menjadi tiga fase, yakni Nepal, Pakistan, dan Tibet/China.
Phase 1: Nepal
1. Annapurna — 8.091 mdpl
Nims Dai memulai rangkaian pendakian tersebut dengan mendaki Annapurna pada April 2019. Annapurna berada di Nepal tengah dan menempati posisi gunung tertinggi ke-10 dunia. Selain itu, gunung ini memiliki tingkat fatalitas tinggi dan menghadirkan risiko besar. Longsoran salju serta medan rawan runtuhan es menjadi ancaman utama bagi pendaki.
2. Dhaulagiri — 8.167 mdpl
Dhaulagiri menempati posisi gunung tertinggi ketujuh di dunia. Gunung ini berjarak sekitar 35 kilometer dari Annapurna. Kali Gandaki Gorge memisahkan kedua gunung tersebut dan menjadi salah satu ngarai terdalam dunia. Nama Dhaulagiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Gunung Putih”.
Selain itu, Dhaulagiri menghadirkan cuaca ekstrem sepanjang jalur pendakian. Angin kencang juga menjadi tantangan bagi para pendaki. Jalurnya panjang dan menguras tenaga selama perjalanan. Karena itu, pendaki menghadapi kondisi alam yang berat menuju puncak.
3. Kangchenjunga — 8.586 mdpl
Kangchenjunga memiliki ketinggian 8.586 meter dan menempati posisi ketiga dunia. Gunung ini berdiri di perbatasan Nepal dan India. Kangchenjunga memiliki lima puncak utama dalam satu kawasan. Karena itu, namanya berarti “Lima Harta Karun Salju”.
Hingga kini, banyak ekspedisi memilih berhenti beberapa meter sebelum titik tertinggi. Mereka mengambil langkah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kepercayaan masyarakat Sikkim. Masyarakat Sikkim menganggap puncak Kangchenjunga sebagai tempat suci. Oleh sebab itu, sejumlah pendaki tidak mencapai titik tertinggi.
4. Mount Everest — 8.849 mdpl
Mount Everest menjadi gunung tertinggi di dunia sekaligus simbol pendakian global. Gunung tersebut berdiri di perbatasan Nepal dan Tibet. Jalur komersial memang membantu pendaki mencapai kawasan puncak. Namun, Everest tetap menghadirkan risiko besar bagi setiap pendaki.
Badai dapat mengganggu perjalanan menuju puncak. Selain itu, kepadatan pendaki juga dapat memicu kemacetan di jalur tertentu. Suhu bahkan dapat turun hingga di bawah minus 40 derajat Celsius. Pendaki juga menghadapi kekurangan oksigen ketika memasuki zona kematian.
5. Lhotse — 8.516 mdpl
Lhotse menempati posisi gunung tertinggi keempat di dunia. Gunung tersebut berdiri tepat di sebelah Mount Everest. Pendaki menggunakan jalur Everest hingga Camp 3 sebelum mengambil cabang menuju puncak Lhotse. Karena itu, kedua jalur tersebut memiliki bagian rute yang sama.
Lhotse Face menjadi tantangan utama dalam perjalanan menuju puncak. Dinding es tersebut memiliki kemiringan hingga sekitar 50 derajat. Kondisi itu menuntut kemampuan teknis pendakian yang tinggi. Selain itu, medan es curam membuat perjalanan semakin menantang.
6. Makalu — 8.485 mdpl
Makalu menempati posisi gunung tertinggi kelima di dunia. Bentuknya menyerupai piramida raksasa dengan empat sisi yang sangat curam. Selain itu, gunung tersebut memiliki banyak tebing batu. Pendaki juga harus melewati punggungan sempit menuju puncak.
Jalur Makalu menuntut kemampuan memanjat tingkat tinggi. Karena itu, pendaki menghadapi medan teknis sepanjang perjalanan. Tebing dan punggungan sempit menjadi tantangan utama. Nims Dai memasukkan Makalu dalam fase Nepal Project Possible.
Phase 2: Pakistan
7. Nanga Parbat — 8.126 mdpl
Nanga Parbat memiliki ketinggian 8.126 meter dan menempati posisi kesembilan dunia. Gunung tersebut berdiri sendiri di wilayah Pakistan. Pendaki mengenal Nanga Parbat dengan julukan Killer Mountain. Sebelum teknologi pendakian modern berkembang, gunung tersebut mencatat tingkat kematian yang sangat tinggi.
Selain itu, Nanga Parbat memiliki Rupal Face di sisi selatan. Dinding tersebut mencapai ketinggian hampir 4.600 meter. Rupal Face menjadi salah satu dinding gunung tertinggi di dunia. Karena itu, kawasan tersebut menghadirkan tantangan besar bagi pendaki.
8. Gasherbrum I — 8.080 mdpl
Gasherbrum I atau Hidden Peak memiliki ketinggian 8.080 meter. Gunung tersebut menempati posisi tertinggi ke-11 dunia. Lokasinya berada di Pegunungan Karakoram. Orang menyebutnya “Hidden Peak” karena puncaknya tersembunyi dari jalur utama.
Selain itu, jalur menuju puncak memiliki gletser besar. Celah es juga menghiasi jalur pendakian menuju puncak. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi dari para pendaki. Nims Dai menaklukkan Gasherbrum I dalam fase Pakistan.
9. Gasherbrum II — 8.035 mdpl
Gasherbrum II memiliki ketinggian 8.035 meter dan menempati posisi ke-13 dunia. Banyak pendaki menganggap jalurnya lebih bersahabat daripada gunung 8.000 meter lainnya. Namun, kondisi tersebut tidak menghilangkan risiko selama pendakian. Pendaki tetap menghadapi suhu ekstrem dan badai salju.
Selain itu, kadar oksigen turun sangat rendah di atas ketinggian 8.000 meter. Kondisi tersebut menambah tantangan selama perjalanan menuju puncak. Karena itu, pendaki tetap menghadapi risiko tinggi di Gasherbrum II. Nims Dai juga menaklukkan gunung ini dalam fase Pakistan.
10. K2 — 8.611 mdpl
K2 memiliki ketinggian 8.611 meter dan menjadi gunung tertinggi kedua dunia. Gunung tersebut berdiri di perbatasan Pakistan dan China. Banyak pendaki menganggap K2 sebagai salah satu gunung tersulit untuk ditaklukkan. Jalurnya lebih curam dan teknis daripada jalur Everest.
Bottleneck menjadi salah satu bagian paling berbahaya di K2. Bagian tersebut berupa lorong sempit di bawah bongkahan es raksasa. Bongkahan es itu dapat runtuh sewaktu-waktu. Karena itu, pendaki menghadapi ancaman serius ketika melewati bagian tersebut.
11. Broad Peak — 8.051 mdpl
Broad Peak berjarak sekitar delapan kilometer dari K2. Gunung tersebut memiliki ketinggian 8.051 meter dan menempati posisi ke-12 dunia. Namanya berasal dari punggungan puncak yang sangat lebar. Meski terlihat landai, jalur pendakiannya tetap panjang.
Pendaki harus melewati beberapa puncak sebelum mencapai titik tertinggi. Karena itu, perjalanan menuju puncak membutuhkan ketahanan tinggi. Broad Peak menjadi bagian dari perjalanan Nims Dai dalam Project Possible. Kemudian, gunung ini menjadi lokasi longsoran salju yang merenggut nyawanya.
Phase 3: Tibet/China
12. Cho Oyu — 8.188 mdpl
Cho Oyu memiliki ketinggian 8.188 meter dan menjadi gunung tertinggi keenam dunia. Gunung tersebut berdiri di perbatasan Nepal dan Tibet. Banyak pendaki menyebut Cho Oyu sebagai salah satu gunung 8.000 meter termudah. Jalurnya relatif landai dibandingkan sejumlah gunung lain dalam daftar tersebut.
Meski demikian, pendaki tetap menghadapi risiko badai selama perjalanan. Hipotermia juga dapat mengancam keselamatan pendaki. Selain itu, kadar oksigen rendah tetap menjadi tantangan di ketinggian ekstrem. Karena itu, jalur relatif landai tidak menghilangkan risiko pendakian.
13. Manaslu — 8.163 mdpl
Manaslu memiliki ketinggian 8.163 meter dan menjadi gunung tertinggi kedelapan dunia. Nama Manaslu berasal dari bahasa Sanskerta, Manasa, yang berarti roh atau jiwa. Gunung tersebut menawarkan panorama Himalaya yang spektakuler. Namun, pendaki juga menghadapi ancaman longsoran salju pada musim pendakian.
Longsoran salju kerap mengancam pendaki selama musim pendakian. Karena itu, kondisi medan menjadi perhatian penting dalam perjalanan. Panorama Himalaya menjadi salah satu daya tarik Manaslu. Nims Dai memasukkan Manaslu dalam fase Tibet/China Project Possible.
14. Shishapangma — 8.027 mdpl
Shishapangma menjadi gunung penutup Project Possible pada Oktober 2019. Gunung ini memiliki ketinggian 8.027 meter dan menjadi gunung 8.000 meter terendah. Selain itu, Shishapangma menjadi satu-satunya gunung yang seluruh wilayahnya berada di Tibet, China. Puncak tersebut menutup perjalanan Nims Dai dalam menaklukkan 14 gunung.
Meski memiliki ketinggian paling rendah dalam daftar, tantangannya tetap besar. Jalur menuju puncak masih berada di zona kematian. Selain itu, kondisi cuaca di kawasan tersebut sulit diprediksi. Karena itu, pendaki tetap menghadapi risiko hingga mencapai puncak.
Rekor Nims Dai dalam Sejarah Pendakian
Keberhasilan Nims Dai menaklukkan 14 gunung mengubah sejarah pendakian dunia. Ia menyelesaikan seluruh rangkaian tersebut dalam waktu hanya 189 hari. Rekor tersebut menjadi pencapaian utama dalam Project Possible. Selain itu, perjalanan tersebut kemudian mendapat perhatian luas melalui film dokumenter Netflix.
Netflix mengangkat kisah tersebut melalui 14 Peaks: Nothing Is Impossible pada 2021. Film dokumenter itu menceritakan perjalanan Nims Dai menaklukkan 14 puncak. Rekornya tidak hanya berbicara mengenai kecepatan pendakian. Namun, pencapaian tersebut juga menunjukkan upaya mewujudkan target yang sebelumnya dianggap mustahil.
Pada akhir Juli 2026, dunia pendakian kembali kehilangan Nims Dai. Longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, merenggut nyawanya. Gunung tersebut sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan Project Possible. Jejak Nims Dai dan rekor 14 gunung dalam 189 hari tetap tercatat dalam sejarah pendakian dunia. (iD/*)











Komentar