7 Merek Rokok Tertua di Indonesia, Ada yang Masih Bertahan hingga Kini

Sejumlah merek lahir sejak awal 1900-an, sementara sebagian lainnya berhenti setelah melewati berbagai perubahan zaman.

- Jurnalis

Selasa, 22 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

7 Merek Rokok Tertua di Indonesia, Ada yang Masih Bertahan hingga Kini. (Foto: Radar Cirebon/soloabadi)

7 Merek Rokok Tertua di Indonesia, Ada yang Masih Bertahan hingga Kini. (Foto: Radar Cirebon/soloabadi)

Intiperistiwa.com – Industri rokok Indonesia mulai tumbuh sejak akhir abad ke-19. Pada masa itu, masyarakat mengenal kretek sebagai rokok khas dengan campuran tembakau, cengkeh, dan saus perisa. Memasuki awal 1900-an, industri rumahan kretek berkembang di sejumlah daerah, terutama Kudus, Jawa Tengah. Sejumlah Merek Rokok Tertua di Indonesia lahir pada masa tersebut dan menorehkan perjalanan bisnis yang panjang.

Sebagian merek mampu mempertahankan usahanya hingga masa kini. Namun, sebagian lainnya berhenti setelah menghadapi perang, persoalan bisnis, atau perubahan ekonomi. Perjalanan setiap perusahaan juga memperlihatkan perubahan cara produksi dan pemasaran dari masa ke masa. Berikut tujuh merek yang mewarnai sejarah industri rokok Indonesia sejak awal abad ke-20.

7 Merek Rokok Tertua di Indonesia dan Sejarah Perjalanannya

1. Tjap Bal Tiga (1906)

Nitisemito bersama istrinya, Nasilah, memakai nama Tjap Bal Tiga secara resmi pada 1906. Kesuksesan bisnis membuat masyarakat menjulukinya “Raja Kretek”. Ia mengelola pabrik yang menghasilkan jutaan batang rokok dan mempekerjakan ribuan buruh. Pada 1918, bisnisnya mencapai salah satu puncak setelah membangun pabrik enam hektare di Desa Jati.

Nitisemito juga memakai cara promosi yang tergolong modern pada masanya. Ia mencetak bungkus di Jepang dengan logo timbul dan memanfaatkan radio serta sandiwara keliling. Bahkan, ia menyebarkan brosur menggunakan pesawat terbang. Namun, popularitas Tjap Bal Tiga mulai merosot ketika Perang Dunia II pecah pada 1939.

Mark Hanusz membahas konflik perebutan posisi keluarga dalam buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes. Perusahaan juga menghadapi dugaan pembukuan ganda yang berkaitan dengan pembayaran pajak. Masalah tersebut berujung pada penyitaan rumah dan mobil Nitisemito. Kemudian, pendudukan Jepang memperburuk kondisi ekonomi pabrik dan membuat Nitisemito kehilangan hampir seluruh asetnya.

Nitisemito meninggal pada 1953 setelah melewati masa sulit dalam bisnisnya. Keluarganya kemudian mencoba menghidupkan kembali Tjap Bal Tiga. Namun, usaha tersebut hanya bertahan sekitar satu hingga dua tahun. Meski berhenti produksi, Tjap Bal Tiga tetap menjadi bagian penting sejarah kretek Indonesia.

2. Dji Sam Soe – HM Sampoerna (1913)

Liem Seeng Tee, seorang imigran Tionghoa, memperkenalkan Dji Sam Soe pada 1913. Sebelumnya, ia sempat membuat beberapa merek rokok dengan racikan berbeda. Pada 1930, Liem kemudian memakai nama perusahaan Sampoerna. Dji Sam Soe selanjutnya menjadi salah satu produk yang terus bertahan.

Saat pendudukan Jepang, tentara Jepang memaksa Liem memproduksi rokok untuk kebutuhan mereka. Mereka juga membawa Liem ke Jawa Barat untuk menjalani kerja paksa. Setelah masa tersebut, Aga Sampoerna melanjutkan usaha keluarga. Pada 2005, keluarga Sampoerna menjual HM Sampoerna kepada Philip Morris.

Meski terjadi perubahan kepemilikan, perusahaan tetap menjalankan produksi di Indonesia. Dji Sam Soe juga tetap beredar di pasar hingga sekarang. Karena itu, merek ini termasuk Merek Rokok Tertua di Indonesia yang masih bertahan. Perjalanannya juga menunjukkan perubahan kepemilikan dalam sejarah industri rokok nasional.

Baca Juga :  Harga Pangan di Pasar Tanjung Bajure,19 Juni 2026 Terpantau Stabil, Cabe Merah dan Ikan Tongkol Turun

3. Goenoeng & Klapa (1913)

Mohamed Atmowijoyo mendirikan Goenoeng & Klapa di Kudus pada 1913. Perusahaan ini memilih fokus pada rokok klobot. Jenis tersebut memakai daun jagung kering sebagai pembungkus rokok. Pilihan itu membedakan Goenoeng & Klapa dari banyak produsen kretek lainnya.

Kini, masyarakat lebih mengenal Goenoeng & Klapa sebagai merek lokal Kudus. Kabarnya, generasi keempat keluarga pendiri masih melanjutkan usahanya. Selain itu, perusahaan menjalankan produksi dengan jumlah pekerja yang relatif kecil. Sumber menyebut jumlah karyawannya sekitar 35 orang.

4. Bentoel (1930)

Ong Hok Liong merintis bisnis yang kemudian berkembang menjadi Bentoel pada September 1930. Usaha awal tersebut memakai nama Strootjes Fabriek Ong Hok Liong. Ia sempat membuat beberapa merek sebelum menemukan keberhasilan melalui Bentoel. Selanjutnya, perusahaan memakai nama PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel pada dekade 1950-an.

Bentoel kemudian memperluas produksi dan distribusi ke berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, perusahaan terus menjalankan kegiatan bisnis hingga masa modern. Pada 16 Januari 2024, PT Bentoel Internasional Investama Tbk keluar dari Bursa Efek Indonesia. Meski begitu, Bentoel tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang industri rokok nasional.

5. Nojorono (1932)

Nojorono berkembang sebagai produsen rokok sejak 1932. Perusahaan ini terkenal melalui merek Minak Djinggo dengan bungkus berwarna kuning. Lima keluarga mengelola perusahaan tersebut sejak masa awal perkembangan. Mereka ialah Tjoa Kang Hay, Tan Tjiep Siang, Tan Kong Ping, Ko Djie Siong, dan Tan Djing Dhay.

Nojorono juga membuat inovasi pada beberapa produknya. Salah satunya memakai bahan parafin agar rokok tidak mudah basah. Inovasi tersebut membuat Minak Djinggo populer di kalangan nelayan. Selain itu, masyarakat mengenal merek ini melalui aroma yang khas dan kuat.

6. Djarum (1951)

Oei Wie Gwan membeli usaha kecil bernama Djarum Gramophon pada 1951. Ia kemudian memasarkan kretek racikannya sendiri dengan nama Djarum. Perusahaan berkembang cepat dan mulai mengekspor produk pada 1972. Beberapa tahun kemudian, Djarum mulai memakai mesin untuk proses produksi.

Hingga kini, Djarum tetap menjalankan bisnis rokok di Indonesia. Perusahaan juga terus mempertahankan nama Djarum sebagai merek utama. Karena itu, Djarum masuk dalam daftar Merek Rokok Tertua di Indonesia yang masih bertahan. Perjalanannya menunjukkan perubahan dari usaha kecil menuju produsen besar.

7. Gudang Garam (1958)

Tjoa Ing Hwie atau Surya Wonowidjojo mendirikan Gudang Garam di Kediri pada 26 Juni 1958. Sebelumnya, ia bekerja pada perusahaan rokok Cap 93. Pada 1956, ia keluar dari perusahaan tersebut dan mulai merintis bisnis sendiri. Dua tahun kemudian, usahanya berkembang dengan nama Gudang Garam.

Baca Juga :  Dugaan Mogok Massal, Isu Penutupan Toko Indomaret Dua Hari Beruntun Jadi Sorotan

Gudang Garam membuka cabang di Gurah, sekitar 13 kilometer dari Kediri, pada 1960. Selanjutnya, perusahaan membangun dua pabrik pada 1968. Pada 1969, Gudang Garam mengubah status usahanya dari industri rumah tangga menjadi firma. Dua tahun kemudian, perusahaan beralih menjadi Perseroan Terbatas.

Sejak 1979, Gudang Garam mulai menggunakan mesin dalam proses produksi. Kemudian, perusahaan mencatatkan saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1990. Hingga kini, Gudang Garam memiliki beberapa kelompok produk berdasarkan cara pembuatannya. Kelompok tersebut mencakup Sigaret Kretek Klobot, Sigaret Kretek Linting-Tangan, dan Sigaret Kretek Linting Mesin.

Ada yang Bertahan, Ada yang Tinggal Sejarah

Tujuh merek tersebut memperlihatkan panjangnya perjalanan industri kretek Indonesia sejak awal abad ke-20. Sebagian perusahaan tetap menjalankan bisnis hingga kini, sedangkan Tjap Bal Tiga berhenti setelah melewati berbagai persoalan. Selain itu, perubahan teknologi, ekonomi, dan kepemilikan ikut membentuk perjalanan setiap perusahaan. Sejarah Merek Rokok Tertua di Indonesia pun memperlihatkan perubahan industri dari masa ke masa. (iD/*)


FAQ

Apa saja Merek Rokok Tertua di Indonesia?

Merek Rokok Tertua di Indonesia dalam daftar ini mencakup Tjap Bal Tiga, Dji Sam Soe, dan Goenoeng & Klapa. Selain itu, terdapat Bentoel, Nojorono, Djarum, dan Gudang Garam. Masing-masing memulai perjalanan pada periode berbeda sejak awal abad ke-20. Namun, tidak seluruh merek tersebut masih menjalankan produksi hingga sekarang.

Apa merek rokok tertua dalam daftar ini?

Tjap Bal Tiga menempati posisi paling awal dalam daftar berdasarkan tahun pemakaian merek. Nitisemito bersama Nasilah memakai nama tersebut sejak 1906. Kemudian, bisnis tersebut tumbuh menjadi salah satu perusahaan kretek besar pada masanya. Namun, perusahaan akhirnya berhenti beberapa tahun setelah Nitisemito meninggal.

Merek mana yang masih bertahan hingga kini?

Dji Sam Soe, Djarum, Gudang Garam, dan sejumlah nama lain dalam daftar masih bertahan berdasarkan sumber. Sementara itu, Tjap Bal Tiga sudah berhenti menjalankan produksi. Goenoeng & Klapa juga kabarnya masih melanjutkan usaha melalui generasi keluarga berikutnya. Karena itu, perjalanan setiap merek menunjukkan kondisi bisnis yang berbeda.

Kapan industri kretek mulai berkembang di Indonesia?

Industri kretek mulai berkembang sejak penghujung abad ke-19. Memasuki 1900-an, banyak industri rumahan tumbuh di sejumlah wilayah. Kudus, Jawa Tengah, menjadi salah satu daerah penting dalam perkembangan tersebut. Dari periode itulah sejumlah merek lama mulai membangun bisnisnya.

Berita Terkait

Mau Coba Bisnis Barang Impor? 8 Produk Ini Laku Keras di Indonesia, dari Gadget hingga Fashion
Tertarik Terjun ke Bisnis Pertanian? Ini 10 Usaha Pertanian Modern yang Menjanjikan dan Layak Dicoba
Regulasi Makin Ketat, Bitcoin Depot Tutup Jaringan ATM Bitcoin di Tiga Negara
Tak Perlu BI Checking, Kini Riwayat Utang Bisa Dicek Sendiri secara Online lewat SLIK OJK
Gen Z Sulit Dapat Kerja, Pekerjaan Dianggap Kuno Ini Ternyata Menjanjikan di Masa Depan
Daftar 10 Negara Paling Makmur di Asia 2026, Indonesia Peringkat Berapa?
Siap-Siap Pertalite Bakal Dibatasi, Cek Kelompok yang Terancam Kehilangan Subsidi
Dolar AS Melemah Pagi Ini, Rupiah Menguat 0,49 Persen
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 13:00 WIB

7 Merek Rokok Tertua di Indonesia, Ada yang Masih Bertahan hingga Kini

Minggu, 20 September 2026 - 10:00 WIB

Mau Coba Bisnis Barang Impor? 8 Produk Ini Laku Keras di Indonesia, dari Gadget hingga Fashion

Minggu, 20 September 2026 - 07:00 WIB

Tertarik Terjun ke Bisnis Pertanian? Ini 10 Usaha Pertanian Modern yang Menjanjikan dan Layak Dicoba

Rabu, 9 September 2026 - 13:00 WIB

Regulasi Makin Ketat, Bitcoin Depot Tutup Jaringan ATM Bitcoin di Tiga Negara

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Tak Perlu BI Checking, Kini Riwayat Utang Bisa Dicek Sendiri secara Online lewat SLIK OJK

Berita Terbaru