Intiperistiwa.com – Pernyataan unik seorang fisikawan memicu perhatian setelah membahas “lokasi Tuhan” di alam semesta. Fisikawan sekaligus penulis sains Dr. Michael Guillén menyebut lokasinya berada di tepi alam semesta teramati. Ia mengaitkan istilah tersebut dengan batas wilayah yang dapat manusia amati dari Bumi. Namun, Guillén tidak bermaksud menyampaikan pernyataan teologis melalui penjelasan tersebut.
Guillén kemudian menjelaskan perkiraan jarak lokasi itu dari Bumi. Menurutnya, jaraknya mencapai sekitar 439 miliar triliun kilometer. Angka tersebut setara dengan kira-kira 46 miliar tahun cahaya. “Jika ingin membayangkan di mana Tuhan berada, itu ada di tepi alam semesta yang dapat kita amati,” ujarnya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan untuk menggambarkan konsep kosmologi yang sangat abstrak. Karena itu, pembaca tidak perlu memaknainya sebagai penemuan Tuhan secara harfiah. Guillén justru mengarahkan pembahasan pada keterbatasan pengamatan manusia. IFL Science mengutip pernyataannya pada Selasa (11/8/2026).
Bukan Pernyataan Teologis
Guillén menegaskan bahwa istilah “lokasi Tuhan” hanya berfungsi sebagai metafora. Ia memakai istilah tersebut untuk memudahkan pemahaman mengenai batas alam semesta teramati. “Ini bukan klaim teologis, melainkan cara menggambarkan batas dari apa yang bisa kita amati,” ujarnya. Dengan demikian, pembahasannya berfokus pada kosmologi dan kemampuan manusia mengamati ruang angkasa.
Dalam konteks tersebut, “lokasi Tuhan” merujuk pada garis batas pengetahuan manusia tentang alam semesta. Batas alam semesta teramati muncul karena cahaya bergerak dengan kecepatan terbatas. Manusia hanya dapat menerima informasi dari cahaya yang sudah mencapai Bumi. Oleh sebab itu, kemampuan pengamatan manusia tidak mencakup seluruh wilayah alam semesta.
Mengapa Alam Semesta Memiliki Batas Pengamatan?
Big Bang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun lalu dan mengawali perkembangan alam semesta. Sejak itu, cahaya dari berbagai wilayah terus bergerak melintasi ruang angkasa. Namun, hanya cahaya dari wilayah tertentu yang sudah mencapai Bumi. Akibatnya, manusia hanya dapat mengamati bagian alam semesta yang informasinya sudah tiba.
Di sisi lain, alam semesta terus mengembang sejak masa awal tersebut. Perluasan ruang membuat objek yang terlihat manusia kini berada jauh lebih jauh. Jaraknya bahkan melampaui perhitungan sederhana berdasarkan perjalanan cahaya. “Karena ruang terus mengembang, apa yang kita lihat sekarang jauh melampaui jarak sederhana yang kita bayangkan,” ujarnya.
Perluasan alam semesta turut menjelaskan angka sekitar 46 miliar tahun cahaya tersebut. Angka itu menggambarkan jarak dalam konteks alam semesta teramati. Jadi, angka tersebut tidak sekadar menunjukkan usia cahaya yang mencapai Bumi. Kosmologi juga memperhitungkan perubahan jarak akibat pemuaian ruang.
Masih Ada Wilayah di Luar Batas Pengamatan
Di luar batas alam semesta teramati, ilmuwan meyakini masih terdapat galaksi dan struktur kosmik lainnya. Akan tetapi, teknologi manusia saat ini belum dapat mengamati wilayah tersebut. Cahaya dari objek-objek itu belum pernah mencapai Bumi. Karena itu, manusia belum memperoleh informasi langsung mengenai kondisi di luar batas tersebut.
Konsep alam semesta teramati menjadi bagian penting dalam kosmologi modern. Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan keterbatasan manusia dalam memahami alam semesta secara menyeluruh. Pada akhirnya, Guillén tidak mengklaim menemukan Tuhan secara harfiah. Ia menggunakan metafora tersebut untuk menggambarkan sejauh mana manusia mampu melihat dan memahami alam semesta. (iD/*)











Komentar