Ilmuwan Temukan Dua Gunung Raksasa Tersembunyi di Dalam Bumi, Lebih Tinggi dari Everest

Dua struktur raksasa bernama Tuzo dan Jason tersembunyi sekitar 2.000 kilometer di bawah permukaan Bumi.

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilmuwan Temukan Dua Gunung Raksasa Tersembunyi di Dalam Bumi, Lebih Tinggi dari Everest. (Foto: Freepik/mediaindonesia)

Ilmuwan Temukan Dua Gunung Raksasa Tersembunyi di Dalam Bumi, Lebih Tinggi dari Everest. (Foto: Freepik/mediaindonesia)

Intiperistiwa.com Ilmuwan mengungkap keberadaan dua gunung raksasa di dalam Bumi yang tersembunyi sangat dalam. Kedua struktur tersebut berada sekitar 2.000 kilometer di bawah permukaan Bumi. Jarak itu sekitar lima kali lebih jauh daripada jarak astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Temuan tersebut sekaligus membuka gambaran mengenai struktur besar yang tersembunyi jauh di bawah permukaan.

Para ilmuwan mempelajari bagian dalam Bumi melalui pengamatan gelombang seismik. Hasil penelitian menunjukkan struktur bagian dalam planet ini sangat kompleks. Selain itu, penelitian memperlihatkan adanya struktur raksasa yang menjulang pada bagian mantel bawah. Ukurannya bahkan jauh melampaui ketinggian Gunung Everest yang hampir mencapai sembilan kilometer.

Struktur tersebut juga melampaui puncak permukaan tradisional mana pun di Tata Surya. Sebagai perbandingan, Olympus Mons di Mars memiliki ketinggian sekitar 22 kilometer. Namun, struktur bawah tanah ini mempunyai skala yang jauh lebih besar. Para ilmuwan kemudian mempelajari karakteristiknya melalui pergerakan gelombang seismik.

Dua Gunung Raksasa Tersembunyi di Bawah Afrika dan Pasifik

Salah satu struktur raksasa tersebut berada jauh di bawah Afrika. Sementara itu, struktur lainnya terletak di bawah Samudera Pasifik. Struktur di bawah Pasifik membentang sekitar 3.000 kilometer. Ukuran tersebut hampir menyamai lebar Bulan.

Meski sering mendapat sebutan gunung, ilmuwan secara teknis menggolongkan struktur itu sebagai large low-velocity provinces atau LLVP. Wilayah tersebut memiliki karakteristik yang dapat memperlambat gelombang seismik. Selain itu, kedua LLVP memiliki ukuran sangat besar hingga sebanding dengan benua. Keduanya berada jauh di bagian bawah mantel Bumi.

Para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti usia kedua struktur tersebut. Mereka juga belum memastikan apakah LLVP hanya muncul sebagai fenomena sementara. Bahkan, struktur itu mungkin sudah bertahan selama jutaan hingga miliaran tahun. Profesor Arwen Deuss dari Universitas Utrecht menjelaskan ketidakpastian tersebut.

Baca Juga :  Samsung Galaxy Z Flip8 Segera Hadir, Intip Bocoran Spesifikasi, Warna, dan Harganya

“Tidak ada yang tahu apakah [LLVP] hanya fenomena sementara, atau apakah fenomena itu telah ada selama jutaan, bahkan mungkin miliaran, tahun,” kata Deuss.

Ilmuwan memberi nama Tuzo dan Jason kepada dua raksasa bawah permukaan tersebut. Nama Tuzo berasal dari ahli geologi Tuzo Wilson. Sementara itu, nama Jason merujuk kepada ahli geologi W Jason Morgan. Kedua nama tersebut kini mewakili struktur besar yang berada jauh di bawah mantel Bumi.

Di sekitar Tuzo dan Jason, ilmuwan juga menemukan sisa lempeng Bumi. Proses subduksi memungkinkan lempeng bergerak dan bergesekan satu sama lain. Selanjutnya, proses tersebut dapat membawa sisa lempeng menuju bagian dalam Bumi. Para peneliti menyebut kawasan yang menampung sisa tersebut sebagai “kuburan lempeng”.

Kuburan lempeng mengelilingi kedua struktur besar tersebut. Selain itu, keberadaannya berkaitan dengan perjalanan panjang material dari permukaan menuju mantel. Proses subduksi sendiri dapat terjadi ketika dua lempeng saling bertemu dan bergerak. Pergerakan tersebut juga dapat memicu gempa serta membawa material lempeng menuju kedalaman.

Bagaimana Ilmuwan Menemukan Struktur Raksasa Ini?

Pada 2024, para seismolog mengumumkan temuan mengenai material yang dahulu membentuk dasar lautan. Kini, material tersebut berada jauh di bawah mantel Bumi. Para peneliti memperkirakan material mulai tenggelam sekitar 250 juta tahun lalu. Pada masa tersebut, dinosaurus pertama mulai muncul dan benua masih menyatu dalam satu daratan.

Baca Juga :  iOS 27 Developer Beta 5 Dirilis, Ini Deretan Fitur Baru yang Berubah

Kemudian, Thomas Schouten dari ETH Zurich Geological Institute melanjutkan penelitian pada November 2024. Ia menggunakan teknologi pencitraan seismograf yang lebih baru. Hasil penelitian menunjukkan jejak subduksi lempeng tektonik pada lokasi yang lebih jauh. Bahkan, ilmuwan menemukannya pada wilayah yang sebelumnya tidak mencatat aktivitas tektonik.

Peneliti menemukan salah satu anomali tersebut di bawah Samudera Pasifik bagian barat. Teknologi seismograf beresolusi tinggi memungkinkan ilmuwan melihat berbagai struktur yang sebelumnya sulit terdeteksi. Namun, para peneliti belum dapat memastikan seluruh objek yang muncul dalam pencitraan tersebut. Thomas menjelaskan keterbatasan itu dalam hasil penelitiannya.

“Dengan alat seismograf yang baru, memiliki resolusi tinggi, kita selalu dapat melihat macam-macam hal yang abnormal,” tutur Thomas.

Namun, Thomas mengatakan ilmuwan belum mengetahui secara pasti identitas setiap anomali tersebut. Salah satu contohnya berupa struktur menyerupai lempengan subduksi yang muncul lebih jauh di dalam mantel. Karena itu, penelitian mengenai bagian dalam Bumi masih terus menghadirkan pertanyaan bagi ilmuwan. Temuan Tuzo dan Jason memperlihatkan masih banyak struktur bawah permukaan yang perlu ilmuwan pahami.

Keberadaan dua gunung raksasa di dalam Bumi memperlihatkan kompleksitas struktur yang tersembunyi jauh di bawah tempat manusia hidup. Penelitian seismik terus membantu ilmuwan mempelajari bagian planet yang tidak dapat manusia jangkau secara langsung. Sementara itu, asal-usul serta usia Tuzo dan Jason masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. Misteri tersebut membuat bagian terdalam Bumi masih menjadi wilayah penting bagi penelitian ilmiah. (iD/*)

Berita Terkait

Sinyal 5G Hilang Saat Masuk Rumah atau Gedung? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Huawei Pura X View Resmi Meluncur dengan Desain Unik, Usung Layar Lebar Pertama di Dunia
Qualcomm Siapkan Snapdragon C untuk Laptop Murah, Performa Diklaim Lampaui Intel N250
Robot Superman Buatan China Makin Canggih, Bisa Lari 45,6 Km/Jam dan Lompat 2 Meter
Harga GPU Nvidia Meroket, RTX Pro 6000 Kini Tembus Rp285 Juta
Komdigi Minta Apple dan Google Hapus Aplikasi Hornet dari Indonesia, Ini Alasannya
Daftar HP dengan Radiasi Tertinggi, Apakah Ponsel Anda Termasuk?
Pengguna Mac Wajib Waspada, Celah Screen Sharing Mulai Dimanfaatkan Hacker
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Sinyal 5G Hilang Saat Masuk Rumah atau Gedung? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Huawei Pura X View Resmi Meluncur dengan Desain Unik, Usung Layar Lebar Pertama di Dunia

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Qualcomm Siapkan Snapdragon C untuk Laptop Murah, Performa Diklaim Lampaui Intel N250

Jumat, 21 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Robot Superman Buatan China Makin Canggih, Bisa Lari 45,6 Km/Jam dan Lompat 2 Meter

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Harga GPU Nvidia Meroket, RTX Pro 6000 Kini Tembus Rp285 Juta

Berita Terbaru