Intiperistiwa.com — Istilah beras fortifikasi belakangan menjadi perbincangan, terutama mengenai kandungan gizi dan perbedaannya dengan beras biasa. Beras ini mengandung tambahan vitamin dan mineral melalui campuran butiran khusus bernama kernel beras fortifikan. Dengan tambahan tersebut, beras fortifikasi dapat membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro melalui makanan pokok. Namun, keberadaannya tidak menggantikan kebutuhan mengonsumsi makanan yang beragam.
Fortifikasi pangan merupakan upaya menambahkan zat gizi tertentu untuk meningkatkan kandungannya dalam makanan. Zat gizi tersebut umumnya mencakup vitamin dan mineral. Melalui fortifikasi, makanan sehari-hari dapat membantu memenuhi asupan mikronutrien atau zat gizi mikro. Strategi ini memanfaatkan bahan pangan yang sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat.
Garam beriodium menjadi salah satu contoh penerapan fortifikasi dalam kehidupan sehari-hari. Penambahan iodium pada garam bertujuan membantu memenuhi kebutuhan tubuh terhadap mineral tersebut. Selain itu, tepung terigu dapat memperoleh tambahan zat besi, seng, asam folat, dan vitamin B tertentu sesuai ketentuan. Meski demikian, fortifikasi tidak mengubah makanan menjadi obat atau suplemen, melainkan meningkatkan kandungan zat gizi tertentu.
Mengenal Beras Fortifikasi dan Kandungan Gizinya
Beras fortifikasi merupakan campuran beras sosoh dan kernel beras fortifikan untuk memperoleh komposisi zat gizi tertentu. Dalam pembuatannya, produsen membentuk kernel menyerupai butiran beras dan memperkayanya dengan vitamin serta mineral. Selanjutnya, produsen mencampurkan kernel tersebut dengan beras sosoh. Campuran itulah yang memberikan tambahan zat gizi pada produk beras fortifikasi.
SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi mencakup persyaratan mutu dan kandungan zat gizi produk. Persyaratan mutunya meliputi warna, tekstur, dan aroma normal, serta kadar air maksimal 14%. Selain itu, standar tersebut mencantumkan persyaratan homogenitas dengan batas maksimal 15%. Ketentuan keamanan pangan juga mencakup batas cemaran dan residu pestisida.
Sementara itu, komponen fortifikasinya mencakup vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng. Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi, standar menetapkan kandungan vitamin B1 minimal 0,25 mg. Rentang kandungan asam folat mencapai 0,25–0,38 mg, sedangkan vitamin B12 sebesar 1–1,5 mikrogram. Untuk mineralnya, kandungan zat besi mencapai 3,50–5,25 mg dan seng sebesar 3–4,5 mg.
Manfaat Tambahan Vitamin dan Mineral
Manfaat beras fortifikasi berkaitan dengan peran masing-masing zat gizi dalam tubuh. Sebagai contoh, tubuh memerlukan zat besi untuk membentuk hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Asam folat berperan dalam pembentukan DNA dan pembelahan sel. Adapun vitamin B12 membantu pembentukan sel darah merah serta mendukung fungsi sistem saraf.
Vitamin B1 membantu tubuh menjalankan metabolisme energi. Sementara itu, seng atau zinc mendukung berbagai proses biologis, termasuk fungsi sistem imun dan pertumbuhan. Tambahan vitamin dan mineral tersebut dapat membantu meningkatkan asupan mikronutrien melalui makanan pokok. Dengan demikian, fortifikasi menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kesenjangan asupan dan menekan risiko kekurangan zat gizi mikro.
Beras menjadi salah satu media fortifikasi karena masyarakat luas mengonsumsinya sebagai pangan pokok. Kebiasaan tersebut memungkinkan penambahan zat gizi menjangkau lebih banyak konsumen. Karena itu, fortifikasi melalui beras tidak membutuhkan perubahan besar dalam kebiasaan makan. Masyarakat dapat memperoleh tambahan vitamin dan mineral melalui pangan yang sudah akrab dalam menu sehari-hari.
Klaim Gizi pada Kemasan Harus Sesuai Kandungan
Selain mutu produk, kesesuaian informasi pada kemasan menjadi bagian penting dalam pembahasan beras fortifikasi. Produk dengan klaim vitamin dan mineral harus memiliki kandungan yang memenuhi ketentuan. SNI 9372:2025 juga mengatur kesesuaian kandungan zat gizi dengan informasi pada label. Artinya, label harus mencerminkan kandungan produk, bukan sekadar menjadi informasi pemasaran.
Produsen harus mempertanggungjawabkan klaim vitamin dan mineral yang mereka cantumkan pada kemasan. Hal ini berkaitan dengan tujuan konsumen membeli beras fortifikasi untuk mendapatkan tambahan zat gizi tertentu. Namun, kandungan aktual yang tidak sesuai klaim menimbulkan persoalan terhadap nilai tambah produk tersebut. Kesesuaian antara informasi kemasan dan kandungan gizi menjadi bagian dari pemenuhan tujuan fortifikasi.
Perbedaannya dengan Beras Biasa dan Pilihan Konsumsi
Perbedaan beras fortifikasi dengan beras biasa terletak pada tambahan vitamin dan mineral melalui proses fortifikasi. Pemerintah belum mewajibkan fortifikasi untuk seluruh beras yang beredar di Indonesia. Sementara itu, beras fortifikasi merupakan produk tersendiri dengan standar khusus. Produsen harus memenuhi persyaratan ketika memasarkan produknya dengan klaim sebagai beras fortifikasi.
Beras fortifikasi dapat menjadi pilihan untuk menambah asupan vitamin dan mineral, tetapi bukan satu-satunya sumber zat gizi mikro. Karena itu, masyarakat tetap perlu mengonsumsi sumber protein, sayuran, buah, kacang-kacangan, dan berbagai kelompok pangan lainnya. Ketiadaan fortifikasi tidak serta-merta menjadikan beras biasa sebagai produk yang kurang baik. Pilihan beras fortifikasi lebih berkaitan dengan upaya memperoleh tambahan zat gizi tertentu melalui makanan pokok. (iD/*)
FAQ
1. Apa itu beras fortifikasi?
Beras fortifikasi merupakan beras sosoh dengan campuran kernel beras fortifikan. Kernel tersebut berbentuk menyerupai butiran beras dan mengandung tambahan vitamin serta mineral. Melalui pencampuran itu, produk beras memperoleh komposisi zat gizi tertentu. Beras ini tetap termasuk makanan, bukan obat atau suplemen.
2. Apa saja kandungan tambahan dalam beras fortifikasi?
Komponen fortifikasinya mencakup vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng. Masing-masing zat gizi memiliki peran dalam tubuh. Sebagai contoh, vitamin B1 membantu metabolisme energi, sementara zat besi membantu pembentukan hemoglobin. Adapun seng mendukung berbagai proses biologis, termasuk fungsi sistem imun dan pertumbuhan.
3. Apakah beras fortifikasi dapat menggantikan kebutuhan makanan beragam?
Beras fortifikasi membantu menambah asupan zat gizi mikro melalui makanan pokok. Namun, produk ini bukan satu-satunya cara memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral. Pola makan tetap perlu mencakup sumber protein, sayuran, buah, kacang-kacangan, dan kelompok pangan lainnya. Dengan demikian, konsumsi beras fortifikasi tetap menjadi bagian dari pola makan yang beragam.











Komentar