Chat Tak Lagi Harus Instan, Aplikasi Pesan Lambat dengan Merpati Digital Mulai Dilirik Gen Z

Carrier Pidge dan Roost menawarkan cara berkirim pesan dengan waktu tunggu berdasarkan jarak, sekaligus mengurangi tuntutan balasan seketika.

- Jurnalis

Rabu, 14 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Chat Tak Lagi Harus Instan, Aplikasi Pesan Lambat dengan Merpati Digital Mulai Dilirik Gen Z. (Gambar: Ilustrasi AI)

Chat Tak Lagi Harus Instan, Aplikasi Pesan Lambat dengan Merpati Digital Mulai Dilirik Gen Z. (Gambar: Ilustrasi AI)

Intiperistiwa.com – Kecepatan menjadi salah satu keunggulan utama komunikasi digital. Pengguna dapat mengirim pesan dalam hitungan detik melalui WhatsApp atau Telegram, lalu melanjutkan percakapan tanpa harus menunggu lama. Namun, kemudahan tersebut terkadang membuat orang merasa perlu segera membalas setiap pesan yang masuk. Akibatnya, sebagian pengguna mulai mencari pengalaman komunikasi yang memberi ruang lebih luas untuk berpikir sebelum merespons.

Di tengah kebiasaan tersebut, aplikasi pesan lambat menawarkan cara berbeda untuk berkomunikasi. Alih-alih mengantarkan chat seketika, aplikasi ini mengandalkan burung virtual yang membawa pesan menuju penerima berdasarkan jarak geografis. Pengguna pun dapat menunggu sambil menyaksikan perjalanan burung melalui peta digital. Dengan konsep itu, waktu tunggu bukan lagi sekadar hambatan, melainkan bagian dari pengalaman berkirim pesan. Tren ini juga memberi alternatif bagi Gen Z yang ingin berkomunikasi dengan lebih santai, tanpa harus menganggap setiap notifikasi sebagai tuntutan untuk segera menjawab.

Carrier Pidge dan Roost Bawa Konsep Merpati Digital

Carrier Pidge dan Roost mengusung konsep pengiriman pesan yang mengingatkan orang pada cara berkirim surat pada masa lalu. Bedanya, kedua aplikasi menghadirkan burung virtual yang membawa chat melintasi peta digital, bukan kurir yang mengantarkan surat fisik.

Pengguna menulis pesan, kemudian aplikasi menjalankan simulasi perjalanan burung menuju lokasi penerima. Karena itu, jarak antara pengirim dan penerima turut menentukan waktu kedatangan pesan.

Konsep ini menghadirkan beberapa fitur menarik:

  • Pesan jarak dekat: Burung virtual dapat mengantarkan pesan dalam hitungan menit, bergantung pada jarak dan mekanisme aplikasi.
  • Pengiriman jarak jauh: Pesan lintas benua dapat membutuhkan waktu berjam-jam, sehingga penerima tidak langsung memperoleh chat seperti pada aplikasi instan.
  • Pelacakan perjalanan: Pengguna dapat melihat perjalanan burung virtual melalui peta secara langsung.
  • Kemungkinan gagal mengantar: Carrier Pidge mencantumkan peluang sekitar 0,2 persen bagi merpati virtual untuk tersesat dan tidak mengantarkan pesan.

Menurut keterangan Carrier Pidge di App Store, aplikasi tersebut menggunakan kecepatan simulasi sekitar 110 mil per jam atau 177 kilometer per jam. Aplikasi itu juga mengandalkan jarak GPS antara pengirim dan penerima untuk memperkirakan waktu pengiriman. <Cite refs={[“turn354768search0”]}/>

Dengan demikian, pengguna tidak sekadar mengetuk tombol kirim lalu menunggu notifikasi. Mereka juga dapat mengikuti perjalanan pesan dan menikmati proses yang biasanya tidak mendapat perhatian dalam komunikasi digital.

Carrier Pidge Dibuat Noah Iarrobino dalam Tiga Minggu

Pengembang bernama Noah Iarrobino membuat Carrier Pidge hanya dalam waktu tiga minggu. Ia menghadirkan aplikasi tersebut dengan konsep sederhana: merpati virtual membawa pesan ke lokasi penerima dengan kecepatan simulasi tertentu.

Iarrobino bahkan menyebut aplikasinya sebagai sesuatu yang “tidak berguna” dan “tidak praktis”. Namun, kedua karakteristik yang terdengar sebagai kekurangan itu justru sesuai dengan gagasan utama Carrier Pidge, yakni mengurangi kecepatan komunikasi yang selama ini menjadi kebiasaan pengguna.

Alih-alih mengejar pengiriman secepat mungkin, Carrier Pidge memberi pengguna kesempatan menikmati perjalanan pesan. Selain itu, peluang kecil merpati virtual tersesat menambahkan unsur ketidakpastian dalam pengalaman berkirim chat.

Melalui konsep tersebut, Iarrobino menawarkan cara berkomunikasi yang berbeda dari pola percakapan instan. Pengguna tetap dapat mengirim pesan, tetapi mereka tidak selalu bisa menentukan kapan penerima akan mendapatkannya.

Roost Raup Ratusan Ribu Pengguna dalam Beberapa Minggu

Roost juga mengembangkan konsep komunikasi melalui burung virtual. Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengirim pesan sambil mengikuti perjalanan burung menuju penerima pada peta digital.

Laporan TechCrunch pada 8 Juli 2026 menyebut Roost tumbuh dari 10.000 pengguna menjadi 100.000 pengguna dalam tiga hari setelah sebuah unggahan tentang aplikasi tersebut menarik perhatian. Sekitar lima minggu setelah periode itu, Roost hampir mencapai 300.000 pengguna.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konsep komunikasi yang tidak mengutamakan kecepatan mampu menarik perhatian banyak pengguna. Namun, angka itu menggambarkan pertumbuhan Roost pada periode awal popularitasnya, bukan jumlah pengguna terkini.

Seperti Carrier Pidge, Roost memberi pengguna pengalaman berkirim pesan yang berbeda dari aplikasi percakapan biasa. Pengguna dapat mengikuti perjalanan burung sambil menunggu pesan tiba, sehingga proses komunikasi berlangsung lebih bertahap.

Mengapa Gen Z Tertarik Mengirim Pesan Lebih Lambat?

Salah satu alasan yang melatarbelakangi tren ini ialah tekanan untuk segera membalas pesan. Aplikasi instan membuat percakapan berlangsung cepat, tetapi kemudahan tersebut terkadang juga menciptakan ekspektasi bahwa pengguna harus selalu siap merespons.

Melalui aplikasi pesan lambat, pengirim mempunyai lebih banyak waktu untuk menyusun kata. Sementara itu, penerima tidak langsung menghadapi pesan yang menuntut jawaban saat itu juga karena burung virtual masih menempuh perjalanan menuju lokasinya.

Selain memberi jeda, konsep ini juga mengubah cara pengguna menikmati komunikasi. Mereka dapat melihat perjalanan burung dan menunggu pesan mencapai tujuan, alih-alih terus memeriksa ruang percakapan untuk mencari balasan.

Meski demikian, tren ini tidak berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan WhatsApp dan Telegram. Kedua layanan tersebut tetap menawarkan kecepatan yang berguna untuk komunikasi sehari-hari, sedangkan Carrier Pidge dan Roost memberikan pilihan bagi pengguna yang menginginkan pengalaman berbeda.

Apakah Aplikasi Pesan Lambat Akan Populer di Indonesia?

Saat ini, Carrier Pidge dan Roost belum terlalu dikenal secara luas di Indonesia. Namun, konsep keduanya memperkenalkan alternatif dalam menggunakan teknologi komunikasi, khususnya bagi orang yang ingin memberi jeda pada percakapan digital.

Pengalaman mengirim pesan melalui merpati virtual juga membawa nuansa komunikasi jarak jauh pada masa lalu ke dalam aplikasi modern. Jika dahulu orang menunggu surat menempuh perjalanan hingga tiba di tujuan, kini pengguna dapat menyaksikan simulasi perjalanan pesan melalui peta digital.

Pada akhirnya, aplikasi pesan lambat tidak harus menggantikan WhatsApp atau Telegram. Pengguna tetap dapat mengandalkan aplikasi instan untuk urusan mendesak, sekaligus memilih Carrier Pidge atau Roost ketika ingin menikmati percakapan dengan tempo lebih santai.

Tren ini menawarkan cara lain dalam memanfaatkan teknologi komunikasi. Alih-alih selalu mengejar kecepatan, pengguna dapat memberi waktu kepada diri sendiri untuk menyusun pesan dan membiarkan penerima merespons ketika mereka siap. (iD/*)


FAQ

1. Apa itu aplikasi pesan lambat?

Aplikasi pesan lambat merupakan layanan komunikasi yang memberi jeda pengiriman dengan menggunakan burung virtual sebagai pembawa pesan. Waktu tempuh bergantung pada jarak antara pengirim dan penerima serta mekanisme aplikasi.

2. Apa saja aplikasi yang menggunakan konsep merpati digital?

Dua aplikasi yang mengusung konsep tersebut ialah Carrier Pidge dan Roost.

3. Seberapa cepat Carrier Pidge mengirim pesan?

Carrier Pidge menggunakan simulasi kecepatan sekitar 110 mil per jam atau 177 kilometer per jam. Jarak geografis menentukan perkiraan waktu perjalanan pesan.

4. Mengapa aplikasi pesan lambat menarik perhatian Gen Z?

Konsep ini memberi ruang bagi pengirim untuk menyusun pesan dengan lebih tenang dan mengurangi tuntutan agar penerima segera membalas.

5. Apakah Gen Z meninggalkan WhatsApp dan Telegram?

Artikel sumber tidak menyatakan bahwa Gen Z sepenuhnya meninggalkan kedua aplikasi tersebut. Carrier Pidge dan Roost menawarkan alternatif untuk pengalaman komunikasi yang lebih lambat.

Berita Terkait

Waspada! Malware Hirudo Mengincar Aplikasi M-Banking, Bisa Curi PIN dan Kuras Saldo Rekening
Lupa Alamat Gmail? Ini 3 Cara Melihat Email Sendiri di HP
Badan Intelijen Bagikan Tips agar HP Tak Dibajak, Rekening Tak Dikuras
151 Hadiah Kendaraan Menanti! Telkomsel Gelar Undian Bagi-Bagi Bahagia, Ini Cara Ikutnya
Komdigi Soroti Kuota Internet Hangus, Ini Skema Perlindungan dari Telkomsel, Indosat, dan XLSMART
Penemu Roket Berbahan Bakar Cair Pertama dan Sejarah Lahirnya Roket Modern
Cara Nonton Video di Yandex Tanpa VPN, Ini Panduan dan Tips Amannya
Jangan Ketinggalan, Pre-Order iPhone Duo Buka Hari Ini!
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Waspada! Malware Hirudo Mengincar Aplikasi M-Banking, Bisa Curi PIN dan Kuras Saldo Rekening

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Lupa Alamat Gmail? Ini 3 Cara Melihat Email Sendiri di HP

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Badan Intelijen Bagikan Tips agar HP Tak Dibajak, Rekening Tak Dikuras

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:00 WIB

151 Hadiah Kendaraan Menanti! Telkomsel Gelar Undian Bagi-Bagi Bahagia, Ini Cara Ikutnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Komdigi Soroti Kuota Internet Hangus, Ini Skema Perlindungan dari Telkomsel, Indosat, dan XLSMART

Berita Terbaru