intiperistiwa.com – Perjalanan manusia menuju luar angkasa berawal dari serangkaian percobaan yang membutuhkan ketekunan, perhitungan ilmiah, dan keberanian untuk menguji gagasan baru. Jauh sebelum penerbangan antariksa menjadi kenyataan, para ilmuwan berusaha menemukan cara agar manusia dapat melampaui atmosfer Bumi. Namun, mewujudkan gagasan tersebut bukan perkara mudah. Mereka harus mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan daya dorong sekaligus menjaga arah penerbangan dalam kondisi yang berbeda dari lingkungan di permukaan Bumi.
Salah satu tokoh yang berperan penting dalam perjalanan tersebut ialah Robert H. Goddard, fisikawan asal Amerika Serikat yang mengembangkan teknologi roket modern. Pada masanya, gagasan tentang perjalanan ke Bulan masih mengundang keraguan, sementara penelitian roket belum memperoleh perhatian luas dari pemerintah. Meski menghadapi keterbatasan dana dan kritik publik, Goddard terus menguji berbagai rancangan hingga mencapai tonggak bersejarah pada 16 Maret 1926. Eksperimennya tidak langsung membawa manusia ke luar angkasa, tetapi memberikan landasan penting bagi pengembangan roket berbahan bakar cair yang kemudian mendukung kemajuan penerbangan antariksa.
Robert H. Goddard, Pelopor Roket Modern
Mengutip laman NASA, Robert Hutchings Goddard (1882–1945) dikenal sebagai salah satu pelopor utama propulsi roket modern. Selain menekuni bidang fisika, ia juga mengembangkan berbagai rancangan teknis yang membantu menjawab persoalan dalam penerbangan roket.
Goddard merupakan bagian dari generasi perintis yang turut mengembangkan pemikiran tentang perjalanan antariksa. Bersama Konstantin Tsiolkovsky dari Rusia dan Hermann Oberth dari Jerman, ia berkontribusi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi roket.
NASA kemudian mengabadikan namanya melalui pendirian Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland, pada 1 Mei 1959. Penghormatan tersebut menegaskan posisi Goddard dalam sejarah pengembangan teknologi antariksa.
Meski demikian, sejarah roket tidak bermula dari Goddard seorang diri. Roket telah dikenal jauh sebelumnya, sedangkan kontribusi khusus Goddard terletak pada pengembangan teknologi roket modern, terutama penggunaan bahan bakar cair.
Eksperimen Awal hingga Paten Roket
Ketertarikan Goddard terhadap teknologi roket mulai menarik perhatian pada 1907. Ketika itu, ia menguji roket berbahan bubuk mesiu di ruang bawah tanah gedung fisika Worcester Polytechnic Institute. Percobaan tersebut menghasilkan kepulan asap, tetapi pihak sekolah tidak mengeluarkannya dari institusi.
Pengalaman itu menjadi bagian awal perjalanan penelitiannya. Goddard kemudian mengembangkan gagasan mengenai sistem roket dan memperoleh dua paten di Amerika Serikat pada 1914.
Paten pertama mencakup roket berbahan bakar cair, sedangkan paten kedua berkaitan dengan roket berbahan bakar padat yang menggunakan dua atau tiga tahap. Kedua paten tersebut menunjukkan bahwa Goddard telah memikirkan berbagai pendekatan untuk meningkatkan kemampuan roket.
Selanjutnya, ia terus meneliti prinsip kerja roket dan mencari cara agar teknologi tersebut dapat mencapai ketinggian yang lebih besar.
Penerbangan Roket Berbahan Bakar Cair Pertama pada 1926
Tonggak terpenting dalam penelitian Goddard terjadi pada 16 Maret 1926. Di Auburn, Massachusetts, ia merancang dan menguji roket berbahan bakar cair pertama yang menggunakan oksigen cair dan bensin.
NASA menilai pencapaian tersebut memiliki arti penting dalam sejarah penerbangan, sebanding dengan penerbangan bersejarah Wright bersaudara di Kitty Hawk. Kedua peristiwa itu menandai kemajuan teknologi yang kemudian membuka peluang bagi perkembangan penerbangan modern.
Namun, roket Goddard masih memiliki kemampuan terbatas jika dibandingkan dengan teknologi roket masa kini. Pemerintah Amerika Serikat pun belum memberikan perhatian besar terhadap eksperimennya.
Walaupun begitu, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa bahan bakar cair dapat digunakan untuk menggerakkan roket. Temuan ini menjadi salah satu dasar penting bagi perkembangan sistem propulsi roket modern.
Gagasan Roket ke Bulan dan Kontroversi Media
Pada 1916, Goddard mengajukan permohonan bantuan dana kepada Smithsonian Institution untuk mendukung penelitiannya. Smithsonian kemudian menerbitkan laporannya pada Januari 1920 dengan judul A Method of Reaching Extreme Altitudes.
Dalam laporan tersebut, Goddard membahas upaya membawa alat pencatat cuaca ke ketinggian yang melampaui kemampuan balon sonde. Ia juga memaparkan teori matematika mengenai daya dorong roket.
Pada bagian akhir, Goddard menguraikan kemungkinan penggunaan roket untuk mencapai Bulan. Ia bahkan menyebut gagasan meledakkan bubuk kilat di permukaan Bulan sebagai penanda kedatangan.
Gagasan tersebut menarik perhatian pers dan memicu kontroversi. Sejumlah pemberitaan menyoroti kemungkinan perjalanan ke Bulan, sementara pemikiran Goddard belum memperoleh pemahaman luas dari masyarakat.
Pengalaman itu memengaruhi hubungannya dengan wartawan. Goddard kemudian menunjukkan sikap keras terhadap kalangan pers sepanjang hidupnya.
Dukungan Dana dan Kemajuan Teknologi Roket
Keterbatasan pendanaan menjadi salah satu tantangan utama Goddard. Hingga 1927, Smithsonian Institution hanya memberikan dukungan dana dengan total 10.000 dolar AS.
Kemudian, bantuan Charles A. Lindbergh membuka jalan bagi Goddard untuk memperoleh dukungan dari Daniel and Florence Guggenheim Foundation. Dukungan tersebut membantu keberlanjutan penelitiannya.
Pada 1936, Smithsonian menerbitkan karya Goddard berjudul Liquid Propellant Rocket Development. Publikasi ini mendokumentasikan pengembangan roket berbahan bakar cair yang ia kerjakan.
Pada awal 1930-an, Goddard dan timnya membawa roket menggunakan truk Ford Model A menuju menara peluncuran di sebuah lokasi sekitar 15 mil atau 24 kilometer di barat laut Roswell, New Mexico.
Dari 1930 hingga 1941, timnya terus mengembangkan ukuran dan kemampuan roket. Dalam periode tersebut, roket yang mereka uji mencapai ketinggian hingga 2.400 meter.
Sejumlah pencapaian teknis Goddard meliputi:
- Membuktikan kemampuan roket di ruang hampa. Ia menunjukkan bahwa roket dapat bekerja tanpa memerlukan udara sebagai tumpuan untuk menghasilkan daya dorong.
- Membawa muatan ilmiah. Pada 1929, ia meluncurkan roket yang membawa barometer dan kamera sebagai muatan ilmiah.
- Menggunakan sirip pengarah. Pada 1932, ia memanfaatkan sirip pada semburan mesin untuk membantu mengarahkan roket.
- Mengembangkan kendali giroskop. Pada 1932, ia mengembangkan perangkat giroskop untuk menjaga arah penerbangan roket.
- Mengembangkan pompa bahan bakar. Ia merancang pompa yang sesuai dengan kebutuhan sistem bahan bakar roket.
- Menggunakan mesin pada poros gimbal. Pada 1937, ia meluncurkan roket dengan mesin yang dapat bergerak pada poros gimbal di bawah kendali giroskop.
Rangkaian pencapaian tersebut memperlihatkan upaya Goddard dalam menyelesaikan persoalan mendasar penerbangan roket, mulai dari daya dorong hingga pengendalian arah.
Kontribusi Goddard pada Masa Perang
Penelitian Goddard juga mencakup teknologi yang kemudian berkaitan dengan pengembangan persenjataan dan penerbangan militer. Sejumlah aspek teknis dalam karyanya, termasuk kendali giroskop dan pompa bahan bakar bertenaga mesin, mendahului rincian teknis rudal V-2 Jerman.
Goddard juga memperagakan prinsip dasar gagasan peluncur yang berkaitan dengan bazoka di Aberdeen Proving Ground, Maryland, dua hari sebelum Gencatan Senjata 1918. Dalam demonstrasi tersebut, ia menggunakan rak partitur musik sebagai landasan peluncur.
Ketika Perang Dunia II berlangsung, Angkatan Laut Amerika Serikat menugaskan Goddard mengembangkan roket pembantu lepas landas pesawat atau Jet-Assisted Take-Off (JATO). Ia juga mengerjakan motor roket cair dengan daya dorong yang dapat diatur.
Goddard berhasil menyelesaikan kedua tugas tersebut. Pekerjaan itu memperlihatkan penerapan penelitiannya untuk kebutuhan penerbangan pada masa perang.
Penghormatan Setelah Goddard Wafat
Goddard meninggal pada 10 Agustus 1945. Setelah kepergiannya, sang istri, Esther Goddard, melanjutkan upaya untuk memperkenalkan karya dan kontribusi suaminya kepada masyarakat.
Pada 16 September 1959, Kongres Amerika Serikat ke-86 menyetujui penerbitan medali emas untuk menghormati Goddard. Pengakuan tersebut menjadi salah satu bentuk penghargaan resmi atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi roket.
Sementara itu, Goddard Space Flight Center meresmikan fasilitasnya pada 16 Maret 1961, tepat 35 tahun setelah Goddard menguji roket berbahan bakar cair pertamanya di lahan pertanian milik bibinya, Effie.
Menurut NASA, sebagian besar karya Goddard belum dikenal luas di Amerika Serikat sebelum Era Antariksa dimulai. Perkembangan penerbangan antariksa kemudian membuat kontribusinya semakin mendapat perhatian.
Warisan Penelitian Goddard bagi Sejarah Antariksa
Mengutip Air and Space Museum, penelitian roket berbahan bakar cair Goddard menghadapi kendala karena ia enggan membagikan hasil eksperimennya kepada orang lain. Sementara itu, Jerman mengembangkan roket skala besar melalui program V-2. Goddard meninggal dengan keyakinan bahwa Nazi telah mencuri teknologinya.
Meski demikian, pengaruh Goddard tidak hanya terletak pada eksperimen roket yang ia lakukan. Penelitiannya ikut memperkuat keyakinan bahwa manusia dapat mewujudkan perjalanan antariksa melalui pengembangan teknologi roket.
Frank Winter, kurator senior yang telah pensiun dari museum tersebut, menyoroti pengaruh publikasi Goddard terhadap perkembangan gagasan tentang perjalanan antariksa. Setelah publikasi itu beredar, karya fiksi ilmiah, film, dan tulisan nonfiksi semakin sering menempatkan roket sebagai teknologi utama untuk menjelajahi luar angkasa.
Sebelum 1920, masyarakat masih menganggap roket sebagai salah satu gagasan di antara berbagai fantasi tentang perjalanan antariksa. Namun, publikasi Goddard bersama karya para perintis dari Rusia dan negara-negara berbahasa Jerman turut mengubah pandangan tersebut.
Dengan demikian, Goddard menempati posisi penting dalam sejarah roket modern. Ia bukan pencipta seluruh jenis roket pertama dalam sejarah, tetapi keberhasilannya menguji roket berbahan bakar cair pada 1926 menjadi tonggak penting bagi perkembangan teknologi penerbangan antariksa. (iD/*)











Komentar