Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak

IDAI mengingatkan dampak jangka panjang paparan asap karhutla terhadap kesehatan pernapasan, kecerdasan, prestasi akademik, dan kesehatan mental anak.

- Jurnalis

Selasa, 20 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak. (gambar: Ilustrasi AI)

Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak. (gambar: Ilustrasi AI)

Intiperistiwa.com — Dampak asap karhutla pada anak perlu mendapat perhatian karena risikonya dapat meluas melampaui gangguan pernapasan. Paparan asap dalam jangka panjang juga menjadi perhatian terkait kesehatan paru, sistem kardiovaskular, kecerdasan, dan kesehatan mental. dr. Fifi Sofiah, SpA, SubspRespi(K), dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan berbagai risiko tersebut dalam temu media pada Jumat (16/10/2026). Ia mengingatkan bahwa anak yang terus-menerus menghirup asap karhutla menghadapi risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan dampak paparan asap terhadap kesehatan dan perkembangan anak.

Fifi juga menyoroti kaitan paparan asap dengan kemampuan intelektual dan prestasi akademik anak. Ia merujuk pada penelitian yang menemukan penurunan skor akademik pada anak yang mengalami paparan asap karhutla. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan kerja saat dewasa. Selain itu, pengalaman traumatis yang berkaitan dengan bencana karhutla dapat menimbulkan masalah kesehatan mental, termasuk risiko post-traumatic stress disorder (PTSD). Peringatan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan dampak jangka panjang asap karhutla, bukan hanya keluhan yang muncul saat kabut asap menyelimuti suatu wilayah.

Dampak Asap Karhutla pada Anak terhadap Kesehatan Paru

Fifi menjelaskan bahwa paparan asap karhutla secara terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pernapasan permanen. Anak yang berulang kali menghirup udara bercampur asap menghadapi risiko masalah kesehatan paru pada masa mendatang.

Selain itu, Fifi mengingatkan bahwa paparan tersebut dapat mengganggu sistem kardiovaskular. Ia juga menyoroti kandungan partikel dan bahan kimia dalam asap yang berpotensi meningkatkan risiko kanker paru.

Baca Juga :  5 Cara Mencegah Influenza A, dari Vaksinasi hingga Cuci Tangan

“Ke depannya karena partikel bahan kimia dan sebagainya, bisa meningkatkan risiko penyakit kanker paru,” kata dr Fifi dalam acara temu media IDAI, Jumat (16/10/2026).

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya perhatian terhadap paparan asap karhutla yang berlangsung terus-menerus. Namun, risiko setiap anak dapat berbeda sesuai kondisi dan tingkat paparan yang mereka alami.

Asap Karhutla Berisiko Memengaruhi Kecerdasan dan Prestasi Akademik Anak

Dampak asap karhutla pada anak juga mencakup aspek kecerdasan dan prestasi akademik. Fifi menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menemukan penurunan kualitas inteligensia pada anak yang mengalami paparan asap.

Peneliti juga menemukan penurunan skor akademik pada anak-anak tersebut. Menurut Fifi, kondisi itu berpotensi memengaruhi kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan kerja saat dewasa.

“Artinya ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan akhirnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa,” sambungnya.

Penjelasan tersebut menyoroti kemungkinan dampak jangka panjang terhadap kehidupan anak. Selain kesehatan fisik, perkembangan intelektual dan pencapaian akademik juga menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian ketika membahas risiko paparan asap karhutla.

Risiko Asap Karhutla terhadap Kesehatan Mental Anak

Fifi turut menyoroti kesehatan mental sebagai aspek penting dalam dampak jangka panjang karhutla terhadap anak. Ia menjelaskan bahwa trauma yang berkaitan dengan pengalaman bencana dapat berujung pada post-traumatic stress disorder (PTSD).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan dampak bencana perlu memperhatikan kesehatan mental, selain kesehatan fisik. Namun, paparan asap tidak berarti setiap anak pasti mengalami PTSD. Penilaian tenaga profesional diperlukan untuk menentukan kondisi kesehatan mental seseorang.

Baca Juga :  Ancaman Silent Cognitive Burden Mengintai Anak Indonesia, IHDC Ungkap Empat Penyebab Utamanya

Fifi menegaskan pentingnya mengantisipasi berbagai risiko tersebut sejak dini.

“Ini adalah kondisi-kondisi yang harus kita antisipasi agar nanti dampak ke depannya, jangka panjang pada anak-anak itu tidak terjadi,” tandasnya.

Peringatan IDAI tersebut menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kesehatan anak selama dan setelah mengalami paparan asap karhutla. Risiko yang disoroti mencakup kesehatan pernapasan, sistem kardiovaskular, kecerdasan, prestasi akademik, serta kesehatan mental. (iD/*)


FAQ

1. Apa saja dampak jangka panjang asap karhutla pada anak?

Menurut penjelasan dr. Fifi Sofiah dari IDAI, paparan asap karhutla berpotensi memengaruhi kesehatan pernapasan, sistem kardiovaskular, kecerdasan, prestasi akademik, dan kesehatan mental anak.

2. Bagaimana asap karhutla dapat memengaruhi kecerdasan anak?

Fifi merujuk pada penelitian yang menemukan penurunan kualitas inteligensia dan skor akademik pada anak yang mengalami paparan asap karhutla. Dampak tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan adaptasi saat dewasa.

3. Apa hubungan trauma akibat karhutla dengan PTSD?

Fifi menyoroti risiko trauma yang dapat berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD). Namun, tidak semua anak yang mengalami bencana atau paparan asap pasti mengalami gangguan tersebut.

4. Siapa yang menjelaskan dampak asap karhutla pada anak?

dr. Fifi Sofiah, SpA, SubspRespi(K), dari UKK Respirologi IDAI, menjelaskan risiko tersebut dalam temu media pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Berita Terkait

Melihat Orang Lain Ketakutan, Benarkah Kita Bisa Ikut Takut? Ini Faktanya
Hb Rendah? Ini 5 Cara Menaikkan Hemoglobin Sesuai Penyebabnya
5 Cara Mencegah Influenza A, dari Vaksinasi hingga Cuci Tangan
Katarak di Usia Muda: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Mau Tetap Sehat di Usia Lanjut? Mulai dengan 5 Kebiasaan Makan Ini
Screen Time Tinggi: 3 Dampak pada Kesehatan dan Cara Mengatasinya
Kemenkes Siapkan 3 Perubahan Layanan BPJS Kesehatan
Dinkes Kerinci Gelar Updating Simatneo dan MPDN, Perkuat Data Ibu dan Bayi serta Pantau Capaian CKG
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Melihat Orang Lain Ketakutan, Benarkah Kita Bisa Ikut Takut? Ini Faktanya

Senin, 19 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Hb Rendah? Ini 5 Cara Menaikkan Hemoglobin Sesuai Penyebabnya

Minggu, 18 Oktober 2026 - 19:00 WIB

5 Cara Mencegah Influenza A, dari Vaksinasi hingga Cuci Tangan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Katarak di Usia Muda: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Berita Terbaru