Kisah Nyata Jumaidin yang Dikira Meninggal oleh Keluarga saat Bencana Palu, Tiba-Tiba Pulang Setelah Delapan Tahun

Setelah delapan tahun kehilangan kabar, Jumaidin kembali ke Bongka Makmur. Keluarganya sempat mengira ia meninggal dalam bencana Palu 2018.

- Jurnalis

Sabtu, 24 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Nyata Jumaidin yang Dikira Meninggal oleh Keluarga saat Bencana Palu, Tiba-Tiba Pulang Setelah Delapan Tahun. (Foto: Ist/faktasulteng)

Kisah Nyata Jumaidin yang Dikira Meninggal oleh Keluarga saat Bencana Palu, Tiba-Tiba Pulang Setelah Delapan Tahun. (Foto: Ist/faktasulteng)

Intiperistiwa.com – Ketika anggota keluarga hilang setelah bencana, ketidakpastian dapat meninggalkan pertanyaan yang sulit terjawab. Bagi keluarga, menerima kabar kematian tidak sama dengan melihat dan mengenali jasad orang yang mereka cari. Perbedaan itu terasa dalam kisah Jumaidin, yang keluarganya yakini meninggal setelah bencana Palu pada 2018. Mereka sempat mengadakan tahlilan selama 40 hari dan menyumbangkan sisa pakaiannya kepada orang lain. Meski tahun-tahun berlalu, kakaknya, Mahania, mengaku masih menyimpan harapan bahwa Jumaidin sebenarnya masih hidup. Ayah mereka juga pernah merasakan harapan serupa, meski keluarga tidak memperoleh kepastian mengenai keberadaan Jumaidin.

Setelah sekitar delapan tahun terpisah, Jumaidin pulang ke rumah keluarganya di Desa Bongka Makmur, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Kepulangan itu bukan sekadar mempertemukan kembali anggota keluarga, tetapi juga membuka cerita tentang luka dan ingatan yang belum sepenuhnya pulih. Menurut penuturan Jumaidin kepada keluarganya, ia sempat mengalami luka parah dan tidak sadarkan diri selama sekitar satu bulan. Setelah sadar, ia tidak mengetahui identitas maupun alamat rumahnya sendiri. Ia kemudian menjalani kehidupan di Morowali dan Palu sebelum perlahan mengingat kampung halamannya. Namun, pertemuan kembali itu juga menyisakan kesedihan karena ayahnya telah meninggal dunia sekitar tiga tahun sebelumnya.

Jumaidin Pulang Setelah Delapan Tahun Terpisah dari Keluarga

Mahania (33) tidak menyangka adiknya, Jumaidin (26), akhirnya kembali ke rumah keluarga setelah bertahun-tahun kehilangan kabar. Menurut keterangan Mahania, Jumaidin tiba di Desa Bongka Makmur sekitar dua minggu sebelum ia memberikan keterangan pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Awalnya, keluarga tidak langsung mempercayai pria yang tiba-tiba datang tersebut. Mereka kemudian memperhatikan wajah dan gigi pria itu hingga yakin bahwa ia benar-benar Jumaidin.

“Awalnya kami sempat tidak percaya, tetapi setelah melihat giginya, kami yakin bahwa memang benar dia adik kami,” kata Mahania saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).

Ada momen lain yang membuat pertemuan tersebut terasa mengharukan. Setibanya di rumah, Jumaidin justru mencari ayah mereka. Padahal, sang ayah telah meninggal dunia sekitar tiga tahun sebelumnya.

Menurut Mahania, ingatan Jumaidin tentang masa lalu belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, ia mulai mengenali anggota keluarganya secara perlahan, termasuk kakak dan adik-adiknya.

“Setelah sampai di rumah, orang pertama yang dia cari adalah bapak kami. Padahal, bapak kami sudah meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu. Setelah itu, dia diajak berkeliling ke rumah kakak-kakaknya. Ternyata, perlahan-lahan ingatannya mulai kembali,” ujar Mahania.

Pencarian Jumaidin Setelah Bencana Palu 2018

Sebelum Jumaidin pulang, keluarga menerima kabar bahwa ia meninggal setelah bencana yang melanda Palu pada 2018. Menurut Mahania, saat itu Jumaidin baru lulus sekolah dan bekerja di sebuah perusahaan percetakan galon.

Dalam cerita yang kemudian disampaikannya kepada keluarga, Jumaidin mengatakan bahwa reruntuhan menimpanya ketika bencana terjadi. Keesokan harinya, ayah mereka berangkat ke Palu untuk mencari keberadaannya. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil.

Sang ayah beberapa kali kembali mencari putranya. Akan tetapi, ia tetap tidak menemukan Jumaidin.

Keluarga kemudian menerima kabar kematian Jumaidin. Menurut Mahania, keluarga sempat memiliki surat atau akta kematian. Mereka mengadakan tahlilan selama 40 hari karena meyakini Jumaidin telah meninggal dunia. Selain itu, keluarga menyumbangkan sisa pakaian miliknya kepada orang lain.

Meski menerima kabar tersebut, Mahania mengaku masih menyimpan harapan bahwa adiknya belum meninggal. Ayah mereka pun pernah merasakan hal serupa karena keluarga belum melihat jasad Jumaidin secara langsung.

“Rasanya sulit percaya dia sudah meninggal kalau kami belum melihat jasadnya,” ujar Mahania.

Namun, harapan tersebut tidak pernah memperoleh kepastian selama bertahun-tahun. Sang ayah akhirnya meninggal dunia tanpa sempat bertemu kembali dengan Jumaidin.

Jumaidin Sempat Tidak Sadarkan Diri Selama Satu Bulan

Menurut cerita Jumaidin kepada keluarganya, seorang temannya menolongnya setelah ia mengalami luka parah akibat bencana di Palu. Teman tersebut kemudian membawanya ke Morowali.

Jumaidin mengatakan bahwa ia tidak sadarkan diri selama sekitar satu bulan. Ketika sadar, ia tidak mengetahui identitas maupun alamat rumahnya sendiri.

Orang yang menolongnya kemudian membantu mengurus dokumen kependudukan. Bantuan itu mencakup pengurusan kartu keluarga dan kartu tanda penduduk (KTP).

Setelah itu, Jumaidin sempat bekerja di Morowali. Pada 2023, ia kembali ke Palu dan bekerja di sebuah perusahaan jasa pencucian mobil. Belakangan, ia berpindah ke perusahaan lain, tetapi tetap bekerja di Kota Palu.

Mahania mengatakan Jumaidin masih memiliki bekas luka akibat kejadian tersebut. Menurut cerita adiknya, luka paling parah berada di bagian kepala. Hingga kini, Jumaidin belum sepenuhnya mengingat masa lalunya.

Video Jembatan di Bongka Membantu Jumaidin Mengingat Kampung Halaman

Setelah bertahun-tahun hidup tanpa mengetahui identitas dan alamat rumahnya, Jumaidin perlahan mulai mengingat kampung halaman di Bongka Makmur.

Menurut Mahania, ingatan tersebut mulai muncul ketika Jumaidin melihat unggahan gambar atau video jembatan di daerah Bongka melalui TikTok. Lokasi itu terasa familier baginya.

Jumaidin kemudian mencari informasi melalui internet untuk memastikan daerah yang mulai ia ingat. Ingatannya tidak langsung pulih sepenuhnya. Namun, sedikit demi sedikit, ia mulai mengingat ayah dan mengenali identitas dirinya sendiri.

Seorang temannya yang bekerja di PLN turut membantu mencari lokasi kampung halaman Jumaidin. Teman tersebut kemudian mengantarnya menuju wilayah sekitar Bongka.

Dari sana, Jumaidin melanjutkan perjalanan menggunakan ojek hingga tiba di Desa Bongka Makmur. Perjalanan itu akhirnya mempertemukannya kembali dengan keluarga yang selama ini meyakini dirinya telah meninggal dunia.

Bagi Mahania dan keluarganya, pertemuan tersebut menghadirkan perasaan yang bercampur aduk. Setelah bertahun-tahun tidak mengetahui keberadaan Jumaidin, mereka akhirnya bisa melihatnya secara langsung.

“Perasaan kami campur aduk. Ada haru, sedih, dan bahagia. Kami bertanya-tanya selama ini dia ke mana, terdampar di mana, siapa yang merawatnya, dan siapa yang memberinya makan selama bertahun-tahun,” ujar Mahania.

Jumaidin Memilih Tetap Tinggal di Palu

Meski keluarga berharap bisa kembali berkumpul dengannya, Jumaidin memilih tetap tinggal di Palu. Menurut Mahania, adiknya mungkin sudah terbiasa dengan kehidupan di kota tersebut.

Selain memiliki pekerjaan, Jumaidin juga mempunyai banyak teman yang selama ini menemaninya. Ia berjanji akan kembali ke kampung halaman ketika memiliki waktu libur.

Keluarga juga berharap bisa mempertemukannya dengan kerabat lain yang belum sempat bertemu langsung sejak kepulangannya. Salah satunya ialah kerabat mereka yang tinggal di Desa Pendolo, Kabupaten Poso.

Bagi keluarga Mahania, kepulangan Jumaidin menjadi kabar yang tidak pernah mereka bayangkan setelah delapan tahun meyakini dirinya telah meninggal dunia. Kini, keluarga kembali mengetahui bahwa Jumaidin masih hidup, meskipun ingatannya belum sepenuhnya pulih dan ayah mereka telah tiada. (iD/*)

Berita Terkait

Karhutla di Taman Nasional Berbak dan Sembilang Meluas, Petugas Terkendala Sumber Air
Wagub Jambi Abdullah Sani Buka Festival Budaya Kerinci 2026, Angkat Warisan Leluhur dan Identitas Daerah
Jeriken Berisi Pertalite Ditemukan Saat Pemadaman Karhutla di Batang Hari, Polisi Dalami Temuan
Polda Jambi Amankan 20 Terduga Pengguna Narkoba di Muaro Jambi
Azhar Hamzah Lantik Lima Pejabat Eselon II Pemkot Sungai Penuh
Kemenhut Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Dua di Jambi
Polisi Tangkap Direktur Travel Umrah terkait Dugaan Penipuan di Jambi
Azhar Hamzah Lantik 38 Kepala Sekolah SD dan SMP di Sungai Penuh
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Karhutla di Taman Nasional Berbak dan Sembilang Meluas, Petugas Terkendala Sumber Air

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Kisah Nyata Jumaidin yang Dikira Meninggal oleh Keluarga saat Bencana Palu, Tiba-Tiba Pulang Setelah Delapan Tahun

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Wagub Jambi Abdullah Sani Buka Festival Budaya Kerinci 2026, Angkat Warisan Leluhur dan Identitas Daerah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Jeriken Berisi Pertalite Ditemukan Saat Pemadaman Karhutla di Batang Hari, Polisi Dalami Temuan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Polda Jambi Amankan 20 Terduga Pengguna Narkoba di Muaro Jambi

Berita Terbaru